Search

Kajeng kliwon

ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)

HARI HARI RAYA DI BALI

Rerahinan / Yadnya yang dilakukan berdasarkan Triwara dengan Pancawara Hari Keliwon

Hari Keliwon dalam panca wara datang tiap-tiap lima hari sekali. Pada tiap-tiap hari Keliwon, bersemadilah Sang Hyang Çiwa. Umat Hindu di Bali harus menyucikan cita (budhi) dengan metirtha gocara. Dilaksanakan dengan cara menghaturkan canang serta wangi-wangian di sanggah dan di atas tempat tidur. Selanjutnya dihaturkan canang reresik wangi-wangian di Parhyangan dan di Kahyangan.

Yadnya ini ditujukan ke hadapan Sang Hyang Ciwa, yaitu ke hadapan Ida Sang Widhi Wasa, kemudian di natar sanggah/ pemerajan, di natar rumah dan menghadap pintu gerbang pekarangan, dihaturkan segehan beberapa nasi kepel (sesuap nasi) lauknya bawang jahe. Tiap set segehan itu terdiri dari 2 kepel dan disuguhkan 3 set (tanding).

Di natar sanggah/pemerajan kepada Sang Bhuta Bucari
Di natar rumah kepada Sang Kala Bucari.
Di hadapan pintu gerbang pekarangan kepada Sang Durgha Bucari.

Dari Sang Tiga Bucari itu kita memohon, agar memberi keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga kita, serta memperoleh kesempurnaan hidup dan kebahagiaan.Setelah selesai menghaturkan upacara-upacara itu, lalu bersembahyang kehadapan Dewa Bhatara, terutama kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, mohon keselamatan dunia dan segala isinya.

Hari Kajeng Keliwon.

Hari Kajeng Keliwon datangnya 15 hari sekali. Upacara dan upakara-upakara yang wajîb dilakukan pada hari Kajeng Keliwon ini, hampir sama dengan upacara dan upakara yang dilakukan pada hari Kliwon sebagai yang telah diuraikan di atas.

Hanya saja segehan-segehannya bertambah dengan nasi-nasi kepel lima warna, yaitu: merah, putih, hitam, kuning, brumbun

Tetabuhannya adalah tuak/ arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan canang burat wangi dan canang yasa. Semuanya itu dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Durgha Dewi. Di bawah / di tanah dihaturkan segehan, dipersembahkan kepada Sang Butha Bucari, Sang Kala Bucari, dan Sang Durgha Bucari.

Agar mendapat keselamatan, kesentosaan dan hidup bahagia, patutlah petunjuk-petunjuk tersebut dilakukan dengan penuh keyakinan, dengan hati budi yang hening suci dan tulus ikhlas

Potong gigi

ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)



Potong gigi......????? Wuiiiiihhhhh...... Ngeri sekali ya dan nyebayanginnya aja ngilu apalagi ngelaksanaainnya....... Khan ngerusak email gigi tuh???? Dan begitu banyak lagi pertanyaanya di benak kita......

Sejak masih berumur satu hari, setiap orang Bali dipenuhi dengan banyak ritual atau upacara agama dalam hidupnya. Mulai dari upacara saat kelahirannya samapai kematiannya. Salah satunya adalah upacara Metatah/Mesangih.

Upacara Metatah/Mesangih dalam bahasa Bali merupakan upacara keagamaan yang wajib dilakukan oleh pemeluk agama Hindu Bali baik itu laki-laki atau perempuan yang telah beranjak remaja atau telah akil balik untuk menuju satu babak hidup memasuki usia dewasa secara niskala.

Upacara Metatah bertujuan membunuh enam musuh dalam diri manusia yang dinggap kurang baik bahkan sering

dianggap musuh dalam diri sendiri.

Enam

musuh itu yang disebut dengan

Sad Ripu.

Sad Ripu itu meliputi:

1. Kama (hawa nafsu yang tidak terkendalikan) 2. Loba (ketamakan, ingin selalu mendapatkan yang lebih.) 3. Krodha (marahyang melampaui batas dan tidak terkendalikan).) 4. Mada (kemabukan yang membawa kegelapan pikiran)

5. Moha (kebingungan/ kurang mampu berkonsentrasi

sehingga akibatnya individu tidak dapat menyelesaikan tugas

dengan sempurna.) 6. Matsarya (iri hati/ dengki yang menyebabkan permusuhan.)

Jadi potong gigi bukan semata-mata untuk mencari keindahan tetapi mempunyai tujuan yang sangat mulia.

KEKUATAN SUPRANATURAL

Bagi keluarga Jro Mangku Wayan Rajin upacara ini sangatlah penting, karena salah satu tugas mereka sebagai orangtua sudah mereka jalani yaitu mendampingi anak-anaknya hingga sampai dewasa.

Prosesi potong gigi hanya merupakan simbolisasi saja. Gigi yang ada bukan dipotong tetapi diratakan dengan menggunakan kikir. Ada 6 gigi atas yang diratakan, termasuk gigi taring, ke 6 gigi inilah yang melambangkan Sad Ripu.

Hanya memakan waktu sekitar 10 – 15 menit untuk melakukan prosesi ini, dan yang melakukannya haruslah seorang yang ahli yang disebut sangging.

Para sangging biasanya orang yang telah di inisiasi menjadi Pinanditayang memang memiliki ketrampilan untuk itu.

Dalam kesempatan kali ini yang melakukan metatah adalah Sangging Alak Ketig, mantra-mantra dilafalkan oleh sangging sebelum melakukan tugasnya supaya upacara berjalan dengan lancar dan semuanya dilakukan di bale keluarga.

Sangging, yang juga memiliki kekuatan supranatural ini lalu mengeluarkan sebuah cincin merah delima dan menuliskan rajahan"Ongkara" pada gigi dan dada. Cincin ini berfungsi sebagai proteksi dari serangan ilmu hitam dari orang yang tak suka pada mereka, dan juga tempat metatah biasanya juga dijaga ketat oleh beberapa orang anggota keluarga dan juga yang memiliki kekuatan supranatural.

Tak jarang pula terdengar kabar orang yang ditatah menjadi sakit, giginya rontok bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

Oleh karena itu upacara metatah tak pernah dilakukan hingga sang surya berada di puncak langit.

Mulut putra dari Jro Mangku Wayan Rajin satu persatu sebelum upacara dimulai, bagian mulut mereka diganjal terlebih dahulu dengan potongan dari kayu dadap atau tebu dan kumur-kumur dengan air perasan kunir lalu diakhiri dengan mengigit daun sirih pertanda berakhirnya proses metatah. Air liur yang keluar yang keluar ditampung dalam sebuah kelapa gading dan biasanya dipegang oleh ibu kandung.

Setelah itu merekapun diperciki dengan air suci atau Tirtha Pembersihan/Penyucian oleh Sangging Ala Ketig.

Lalu Gedhe, Kadek dan Komang pun bersembahyang di merajan keluarga, dipimpin oleh seorang pedanda untuk memohon perlindungan dari Sang Hyang Widi Wasa untuk memasuki tahapan baru dalam hidup mereka. Kepada leluhur mereka minta didoakan dan direstui jalan hidupnya yang dilambangkan dengan Kewangen.

Prosesi ini memang membutuhkan biaya yang sangat mahal, karena prosesinya membutuhkan beberapa kelengkapan sesajen dan juga banyak keluarga yang hadir, apalagi saat ini kelurga Jro Mangku Wayan Rajin melaksanakan bertepatan dengan prosesi pernikahan putranya yang kedua maka memerlukan biaya yang sangat besar.
ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)


Mahalnya biaya membuat orang Bali lebih memilih ritual Metatah ini dilakukan berkelompok untuk menghemat coast.

Setelah semuanya selesai maka Kadek dan Dayu Okta harus bersiap-siap di dandani atau di rias untuk melaksanakan upacara Pawiwahan dan kemudian berdoa ke pura leluhur mereka.

Memang orang Bali selalu mengingat akan Budaya asal mereka dan tidak pernah meninggalkannya sesuai dengan falsafah mereka:

"....Ngerajenga Agama Budaya Adat Istiadat Jagat Lan Sedaging Jagat Rauhin Kepungkur Wekas..."

yang artinya Masyarakat Bali senantiasa menjaga keajegan/kerukunan agama, adat istiadat bangsa dan negara dari dulu, kini dan yang akan datang.

OTONAN peringatan hari lahir umat hindu

ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)

Bali memang unik dan menarik bagi semua orang, tidak hanya Bangsa sendiri tetapi juga Bangsa-bangsa di seluruh dunia membicarakan tentang "Bali". Salah satu keunikan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali dimanapun berada tidak pernah melupakan prihal; Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni; 6 (enam) bulan kali 35 hari = 210 hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Bali memang unik dan menarik bagi semua orang, tidak hanya Bangsa sendiri tetapi juga Bangsa-bangsa di seluruh dunia membicarakan tentang "Bali". Salah satu keunikan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali dimanapun berada tidak pernah melupakan prihal; Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni; 6 (enam) bulan kali 35 hari = 210 hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Berbeda dengan peringatan hari Ulang Tahun yang hanya menggunakan perhitungan tanggal dan bulan saja, dengan mengabaikan hari maupun wuku pada tanggal tersebut. Misalnya seseorang yang lahir tanggal 10 Januari, maka hari ulang tahunnya akan diperingati tiap-tiap tanggal 10 Januari pada tahun berikutnya (12 bulan kalender).

Otonan diperingati sebagai hari kelahiran dengan melaksanakan upakara yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan dan bila upakaranya lebih besar dipuput aleh pemangku (Pinandita). Sarana pokok sebagai upakara dalam otonan ini ada1ah; biyukawonan, tebasan lima, tumpeng lima, gebogan dan sesayut.

Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam mengantarkan doa-doa otonan sering mempergunakan doa yang diucapkan yang disebut sehe (see) yakni doa dalam bahasa Bali yang diucapkan oleh penganteb upacara otonan yang memiliki pengaruh psikologis terhadap yang melaksanakan otonan, karena bersamaan dengan doa juga dilakukan pemberian simbol-simbol sebagai telah menerima anugerah dari kekuatan doa tersebut.

Sebagai contoh :

Melingkarkan gelang benang dipergelangan tangan si empunya Otonan, dengan pengantar doa : "Ne cening magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi" (Ini kamu memakai gelang benang, supaya ber otot kawat dan bertulang besi).

Ada dua makna yang dapat dipetik dari simbolis memakai gelang benang tersebut adalah pertama dilihat dari sifat bendanya dan kedua dari makna ucapannya. Dari sifat bendanya benang dapat dilihat sebagai berikut :

1. Benang memiliki konotasi beneng dalam bahasa Bali berarti lurus, karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. Agar hati selalu di jalan yang lurus/benar.

2. Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.

Sedangkan dari ucapannya doa tersebut memiliki makna pengharapan agar menjadi kuat seperti memiliki kekuatannya baja atau besi. Disamping kuat dalam arti fisik seperti kuat tulang atau ototnya tetapi juga kuat tekadnya, kuat keyakinannya terhadap Tuhan dan kebenaran, kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup sebab hidup ini bagaikan usaha menyeberangi samudra yang luas. Bermacam rintangan ada di dalamnya, tak terkecuali cobaan hebat yang sering dapat membuat orang putus asa karena kurang kuat hatinya.

Dalam rangkaian upacara otonan berikutnya sebelum natab, didahului dengan memegang dulang tempat sesayut dan memutar sesayut tersebut tiga kali ke arah pra sawia (searah jarum jam) dengan doa dalam bahasa Bali sebagai berikut: "Ne cening ngilehang sampan, ngilehang perahu, batu mokocok, tungked bungbungan, teked dipasisi napetang perahu "bencah" (Ini kamu memutar sampan, memutar perahu, batu makocok, tongkat bungbung, sampai di pantai menemui kapal terdampar).

Dari doa tersebut dapat dilihat makna:

1. "Ngilehang sampan ngilehang perahu" bahwa hidup ini bagaikan diatas perahu yang setiap hari harus kesana-kemari mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Badan kasar ini adalah bagaikan perahu yang selalu diarahkan sesuai dengan keinginan sang diri yang menghidupi kita.

2. "Batu makocok" adalah sebuah alat judi. Kita teringat dengan kisah Pandawa dan Korawa yang bermain dadu, yang dimenangkan oleh Korawa akibat kelicikan Sakuni. Jadi hidup ini bagaikan sebuah perjudian dan dengan tekad dan keyakinan yang kuat harus dimenangkan.

3. "Tungked bungbungan" (tongkat berlobang) adalah bambu yang dipakai kantihan yakni sebagai penyangga keseimbangan samping perahu agar tidak mudah tenggelam karena bambu bila masih utuh memang selalu terapung. "Perahu hidup ini" jangan mudah tenggelam oleh keadaan, kita harus selalu dapat mengatasinya sehingga dapat berumur panjang sampai mempergunakan tongkat (usia tua).

4. "Teked dipasisi napetang perahu bencah" (sampai di pantai menemui perahu / kapal terdampar). Terinspirasi dari sistem hukum tawan karang yang ada pada jaman dahulu di Bali, yakni setiap ada kapal atau perahu yang terdampar di pantai di Bali, rakyat Bali dapat dengan bebas menahan dan merampas barang yang ada .pada kapal yang terdampar tersebut. Maksudnya supaya mendapatkan rejeki nomplok, atau dengan usaha yang mudah bisa mendapatkan rejeki yang banyak.

Demikian luhurnya makna doa yang diucapkan dalam sebuah upacara otonan bagi masyarakat Hindu Bali yang dikemas dengan simbolis yang dapat dimaknai secara fisik maupun psikologis, dengan harapan agar putra-putri yang menjadi tumpuan harapan keluarga mendapatkan kekuatan dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan.

DASA AWATARA

Dasa Awatara adalah sepuluh Awatara yang diyakini sebagai penjelmaan material Dewa Wisnu dalam misi menyelamatkan dunia. Dari sepuluh Awatara, sembilan diantaranya diyakini sudah pernah menyelamatkan dunia, sedangkan satu di antaranya, Awatara terakhir (Kalki Awatara), masih menunggu waktu yang tepat (konon pada akhir Kali Yuga) untuk turun ke dunia. Kisah-kisah Awatara tersebut terangkum dalam sebuah kitab yang disebut Purana.


Dasa Awatara dari zaman ke zaman

Matsya Awatara, sang ikan, muncul saat Satya Yuga
Kurma Awatara, sang kura-kura, muncul saat Satya Yuga
Waraha Awatara, sang babi hutan, muncul saat Satya Yuga
Narasimha Awatara, manusia berkepala singa, muncul saat Satya Yuga
Wamana Awatara, sang orang cebol, muncul saat Treta Yuga
Parasurama Awatara, sang Rama bersenjata kapak, muncul saat Treta Yuga
Rama Awatara, sang ksatria, muncul saat Treta Yuga
Kresna Awatara, putra Wasudewa, muncul saat Dwapara Yuga
Buddha Awatara, pangeran Siddharta Gautama, muncul saat Kali Yuga
Kalki Awatara, sang pemusnah, muncul saat Kali Yuga

ZAMAN KALIYUGA

Kaliyuga (Dewanagari: कलीयुग) (disebut juga "zaman kegelapan") adalah salah satu dari empat jenjang zaman yang merupakan siklus dari Yuga. Jenjang yang lain bernama Dwaparayuga, Tretayuga, dan Satyayuga. Menurut Surya Siddhanta (kitab ilmu astronomis yang menjadi dasar perhitungan kalender Hindu dan Buddha), Kaliyuga dimulai tengah malam pada pukul 00.00 (atau 24.00), pada tanggal 18 Februari 3102 SM menurut perhitungan kalender Julian,[1] atau tanggal 23 Januari 3102 SM menurut perhitungan kalender Gregorian, yang mana pada saat tersebut diyakini oleh umat Hindu sebagai saat ketika Kresna meninggal dunia. Kali Yuga berlangsung selama 432.000 tahun. Pada zaman Kaliyuga, tingkat moralitas yang tersisa hanya seperempat dari yang ada pada zaman Satyayuga, sehingga lembu dharma hanya berdiri dengan satu kaki saja.[2][3]

Kebanyakan umat Hindu meyakini sekarang adalah masa Kaliyuga, meskipun ada yang mengatakan sekarang masa Dwaparayuga. Menurut Sri Yukteswar,[4] semenjak tahun 1699 Masehi, bumi telah memasuki kembali zaman Dwaparayuga. Namun, dilihat dari situasi dan kondisi, bagi kebanyakan umat Hindu, zaman sekarang cenderung menunjukkan tanda-tanda zaman Kaliyuga. Semenjak tahun 3102 SM sampai sekarang, zaman Kaliyuga baru berjalan selama kurang lebih 5000 tahun.

Pelafalan kata Kali berbeda dengan Kālī. Kata kali dalam Kaliyuga tidak sama dengan Dewi Kālī. Dalam kata Kaliyuga, kali berarti manifestasi negatif dari Dewa Wisnu yang menjalankan keburukan di dunia, sekaligus penyebab kehancuran.[5] Sedangkan kata kālī pada Dewi Kali berarti hitam, kematian, waktu (bentuk feminin dari kata Kāla).

Tanda-tanda zaman Kaliyuga

Dalam kitab Wisnupurana dituturkan:

“ Pada masa Kaliyuga, ada banyak aturan yang saling bersaing satu sama lain. Mereka tidak akan punya tabiat. Kekerasan, kepalsuan, dan tindak kejahatan akan menjadi santapan sehari-hari. Kesucian dan tabiat baik perlahan-lahan akan merosot..... Gairah dan nafsu menjadi pemuas hati di antara pria dan wanita. Wanita akan menjadi objek yang memikat nafsu birahi. Kebohongan akan digunakan untuk mencari nafkah. Orang-orang terpelajar kelihatan lucu dan aneh. Hanya orang-orang kaya yang akan berkuasa. ”

Pada zaman Kaliyuga, banyak perubahan tak diinginkan yang akan terjadi. Tangan kiri akan menjadi tangan kanan, dan tangan kanan menjadi tangan kiri. Orang yang kurang terpelajar akan mengajari kebenaran. Yang tua kurang sensitif terhadap yang muda, dan yang muda akan berani melawan yang tua.

Pada zaman Kaliyuga, orang-orang yang berbuat dosa akan bertambah berlipat-lipat, kebajikan akan meredup dan berhenti berkembang.

Pada zaman Kaliyuga, kehamilan di usia remaja bukanlah hal yang asing lagi. Penyebab utamanya kebanyakan karena dampak sosial dari pergaulan yang dijadikan salah satu kebutuhan utama dalam hidup.

Pada zaman tersebut, umat manusia menjadi semakin pendek, raganya melemah secara mental dan rohaniah.

Pada zaman Kaliyuga, para guru akan dilawan oleh para muridnya. Mereka perlahan-lahan kehilangan rasa hormat. Pelajarannya akan dicela dan Kama (nafsu) akan mengontrol semua keinginan manusia.

Semakin bertambahnya orang-orang berdosa, keadilan menjadi ternoda, dan kemarahan Tuhan akan mendera. Orang-orang berdosa akan dihukum melalui kejadian yang disebabkan oleh kuasa Tuhan, tetapi orang-orang yang masih hidup dan sempat menyaksikannya masih punya kesempatan untuk bertobat, atau tidak bertobat dan ikut dihukum bersama orang-orang berdosa yang lain.

Ketika pohon-pohon berhenti berbunga, dan pohon-pohon buah berhenti berbuah, maka pada saat itulah masa-masa menjelang akhirnya zaman Kaliyuga. Hujan akan turun bukan pada musimnya ketika akhir zaman Kaliyuga sudah mendekat.

ZAMAN DWAPARAYUGA

Dwaparayuga adalah zaman ketiga dalam siklus Yuga. Zaman ini merupakan lanjutan dari zaman Tretayuga, zaman ketika moral manusia sempurna. Zaman Dwaparayuga merupakan zaman sebelum Kaliyuga. Zaman ini berlangsung selama 864.000 tahun. Merujuk pada apa yang tertulis di dalam Purana, zaman Dwaparayuga berakhir di kala Kresna kembali ke kediaman abadinya di Waikuntha.

ZAMAN TRETAYUDA

Tretayuga (Dewanagari: त्रेतायुग) adalah jenjang zaman yang kedua dalam siklus Yuga. Zaman ini merupakan lanjutan dari zaman Satyayuga, zaman ketika moral manusia sempurna. Zaman Tretayuga merupakan zaman sebelum Dwaparayuga. Zaman ini berlangsung selama 1.296.000 tahun.

Jika diibaratkan seperti Lembu Dharma (simbol perkembangan moralitas), keempat siklus Yuga seperti lembu yang berdiri dengan empat kakinya, dimana setiap zaman berganti, kaki lembu juga ikut berkurang satu. Zaman Satyayuga seperti lembu yang berdiri dengan empat kaki, mantap. Pada masa Tretayuga, lembu Dharma berdiri dengan tiga kaki.

Pada zaman ini, manusia mulai melakukan dosa-dosa. Penjahat mulai bermunculan. Namun semua masih berjalan seimbang. Aktivitas yang berhubungan dengan agama dan kerohanian terjadi dimana-mana dan sangat erat dengan kehidupan manusia.

Pada zaman ini muncul berbagai peristiwa. Peristiwa yang paling terkenal adalah munculnya Awatara Wisnu yang kelima, keenam, dan kedelapan, yakni: Wamana, Parasurama, dan Rama.

Obrolan(Chat Zone)

Total Pageviews

 
powered by Blogger | Design by ADMIN all rights reserved