Search

Makna Galungan dan Kuningan

Sebelumnya seluruh anggota Semeton Brahmana IB & IA (Facebook Grup) mengucapkan Rahajeng rahina jagat Galungan lan Kuningan :).

Galungan adalah hari raya suci Hindu yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan berdasarkan hitungan waktu bertemu sapta wara dan panca wara. Umat Hindu dengan penuh rasa bhakti melaksanakan rangkaian hari raya suci Galungan dan Kuningan dengan ritual keagamaan. [ Oleh : I Nyoman Dayuh, (UNHI - Dps)]
Menurut lontar Purana Bali Dwipa disebutkan :
"Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya".
Artinya:
"Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka".
Mulai tahun saka inilah hari raya Galungan terus dilaksanakan, kemudian tiba-tiba Galungan berhenti dirayakan entah dasar apa pertimbangannya, itu terjadi pada tahun 1103 saka saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 saka Galungan tidak dirayakan. Dan akhirnya Galungan baru dirayakan kembali pada saat Raja Sri Jaya Kasunu memerintah, merasa heran kenapa raja dan para pejabat yang memerintah sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui sebabnya beliau bersemedi dan mendapatkan pawisik dari Dewi Durgha menjelaskan pada raja, leluhumya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan, oleh karena itu Dewi Durgha meminta kembali agar Galungan dirayakan kembali sesuai dengan tradisi yang berlaku dan memasang penjor.

Macam - Macam Galungan
A. Galungan Di dalam lontar Sundarigama menyebutkan pada Buda Kliwon wuku Dungulan disebut hari raya Galungan.

B. Galungan Nadi Apabila Galungan jatuh pada bulan Purnama disebut Galungan Nadi, umat Hindu melaksanakan tingkatan upacara yang lebih utama. Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa bahwa Galungan jatuh pada sasih kapat (kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka Bali bagaikan lndra Loka ini menandakan betapa meriahnya dan sucinya hari raya itu.

C. Galungan Naramangsa. Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala mengenai Galungan Naramangsa disebutkan apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9, tidak dibenarkan merayakan hari raya Galungan dan menghaturkan sesajen berisi tumpeng seyogyanya umat mengadakan caru berisi nasi cacahan dicampur ubi keladi, bila melanggar akan diserbu oleh Balagadabah.

Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan
Persiapan perayan hari raya Galungan dimulai sejak Tumpek Wariga disebut juga Tumpek Bubuh, pada hari ini umat memohon kehadapan Sanghyang Sangkara, Dewanya tumbuh tumbuhan agar Beliau menganugrahkan supaya hasil pertanian meningkat. Setelah itu wrespati Sungsang adalah hari Sugihan Jawa merupakan pensucian bhuwana agung dilaksanakan dengan menghaturkan pesucian mererebu di Merajan, pekarangan, rumah serta menyucikan alat-alat untuk hari raya Galungan. Besoknya Sukra Kliwon Sungsang disebut hari Sugihan Bali, pada hari ini kita melaksanakan penyucian bhuwana alit, mengheningkan pikiran agar hening, heneng dan metirta gocara. Selanjutnya Redite Paing Dungulan disebut penyekeban.

Pada hari ini adalah hari turunnya Sang Kala Tiga Wisesa, maka pada hari ini para wiku dan widnyana meningkatkan pengendalian diri (anyekung adnyana). Besoknya Soma Pon Dungulan disebut penyajaan pada hari ini tetap menguji keteguhan sebagai bukti kesungguhan melakukan peningkatan kesucian diri seperti yoga semadi. Selanjutnya Anggara Wage Dungulan disebut penampahan melakukan bhuta yadnya ring catur pate atau lebuh di halaman rumah, agar tidak diganggu Sang Kala Tiga Wisesa. Besoknya Buda Kliwon Dungulan disebut Hari Raya Galungan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. Wrespati Umanis Dungulan disebut Manis Galungan, umat saling kunjung-mengunjungi dan maaf- memaafkan. Selanjutnya Saniscara Pon Dungulan disebut pemaridan guru pada hari ini umat melaksanakan tirta gocara, Redite Wage Kuningan disebut ulihan kembalinya Dewa dan Pitara kekahyangan. Selanjutnya Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung Dewa beserta pengiringnya kembali dan sampai ketempat masing-masing. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan adalah persiapan untuk menyambut hari Raya Kuningan. Besoknya Saniscara Kliwon Kuningan hari Raya Kuningan, pada hari ini umat Hindu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Upacara menghaturkan saji hendaknya.dilaksanakan jangan sampai lewat tengah hari, mengapa ? Karena pada tengah hari para Dewata diceritakan kembali ke swarga. Kemudian yang paling akhir dari rangkaian hari raya Galungan yaitu Buda Kliwon Pahang disebut pegat uwakan akhir dari pada melakukan peberatan Galungan sebagai pewarah Dewi Durga kepada Sri Jaya Kasunu ditandai dengan mencabut penjor kemudian dibakar, abunya dimasukkan kedalam bungkak gading ditanam di pekarangan.

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, "matutur ikang atma ri jatinya" (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya). Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan. Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan, dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :
"Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika".
Artinya:
Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa- rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu. Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknyalah ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus. Sarasamuccaya (sloka 564) menyebutkan :
"Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan".
Artinya:
Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan. Demikianlah keutamaan dharma hendaknyalah diketahui, dipahami kemudian dilaksanakan sehingga menemukan siapa sesungguhnya jati diri kita. (WHD No. 436 Juni 2003).

sumber: www.parisada.org

Perjalanan Brahmana

Original Posted by Goestu BrandalanCengenkkeparat(in FB GRUP)

Berdasarkan beberapa sumber yang tertulis pada beberapa Prasasty ataupun Babad, seprti babad Bendesa Manik Mas, dan babad Pasek Kayu Selem, maupun Babad Sapta Rsi, secara umum menyatakan bahwa masyarakat Umat Hindu siapapun itu, bahkan termasuk para Bangsawan/Pemimpin besar Bangsa Indonesia ini, adalah berasal dari satu sumber yaitu dari seorang Brahmana atau Orang Suci ( Struktur Ciptaan) ada dibawah ini. Dilihat dari Kata asal kata, kata Brahmana, berasal dari kata Brahman. sesuai dengan Ajaran Agma Hindu, Brahman itu adalah sebutan lain dari Nama Tuhan Maha pencipta, dalam ManifestaiNya Beliau adalah disebut Dewa Brahma sebagai pencipta segal;a kehidupan yang ada maupun tiada di Dunia ini. artinya semua makhluk hidup didunia ini terciptakan oleh Tuhan Yang Maha Pencipta, dalam ManifestasiNya disebut Dewa Brahma, tanpa terkecuali termasuk Hewan, Binatang, Manusia dan sebagainya dan semuanya memiliki sifat-sifat dan kemampuan yang sama yaitu sifat dan kemampuan kebrahmanaan.

Artinya, kalau saja Tuhan/Sang Brahman menghendaki, hewan,binatangpun bisa menduduki fungsi sebagai Brahmana apalagi sesama Umat Manusia. contohnya : Dalam Cerita Wisnu awatara, Ikan, Singa, Babi Hutan, Penyu dan sebagainya disebut sebagai Wisnu Awatara(Turunnya ) Dewa Wisnu dalam berbagai bentuk perwujudan.

Demikian Pula kebradaan seorang Brahmana/Sulinggih. Umat Hindu didjaman ini, amat kecil kemungkinannya dapat terlahirkan secara langsung oelh seorang Ibu yang berstatus Brahmana. berbeda dengan kondisi terdahulu sewaktu keberadaan Para Brahmana didjaman Raja-raja, dimana seorang Brahmana seperti Ida Mpu Nirarta/Mpu Dwijendra sakti wawu Rauh, atau yang dikenal dengan nama Ida Pedanda sakti wawu Rauh, tidak dilarang untuk menikah dan melahirkan seorang Putra dari kandungannya, sehingga amat memungkinkan ada kelahiran Putra Brahmana atau diesbut Brhaman kelahiran atau Brahmana wangsa, seperti nama-nama dari kelompok Brahmana terdahulu, yaitu Brahmana Manuaba, Keniten, antapan, Mas dan sebagainya.

Namun didjaman kemerdekaan ini, amat kecil kemungkinannya ada seorang Sulinggih/Brhamana/Ida Mpu, Ida Rsi, Ida Pedanda yang hamil dan melahirkan Putra dari kandungannya. sebab, aturan untuk menjadi Sulinggih Umat Hindu, usianya, pengetahuannya, ditetapkan yaitu seperti : sudah berkeluarga, sudah berputra, bahkan sudah bercucu, sehingga Putra-putra eliau sebelum ddiksa menjadi Sulinggih tidak termasuk Putra Sulinggih. dan tidak wajar disebut keturunan sulinggh atau Brahmana Wangsa atau orang yang dilahirkan oleh kehamilan seorang Brahmana/Sulinggih.

Yang terjadi saat ini, seorang Sulinggih/Brahmana seperti Ida Mpu, Ida Rsi, Ida Pedanda, dilahirkan secara ritual oleh seornag Brahmana Nabe dengan Prosesi Upakara dan Upacra Yadnya yang disebut dengan Pediksaan. dan setelah usai Upacra pediksaan itu, barulah seseorang tersebut disyahkan perubahan statusnya menjadi seorang Sulinggih Umat Hindu atau seorang Brahmana Umat Hindu bukan sulinggih kelompok umat HIndu.

Jika pemahamna ini dapat kita pahami dan kita akui bersama sebagai insan Hindu, Niscaya segala hal perbedaan yang ada di masyarakat kita khusunya Masyarakta Hindu yang berpotensi terhadap perseketaan adat, budaya, Tradisi, tidak akan terjadi lagi.

Untuk lebih jelasnya dibawah ini tersusun asal-usul adanya Wangsa Brahmana bukan Brahmana Wangsa. dalam bentuk Struktur kelahiran.

Om Santhi,Santhi,Santhi,Om

Danghyang Nirartha dan Sejarah Wangsa di Bali

Pada akhir abad ke 15, kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan. Selain disebabkan karena faktor dari dalam, yaitu perang saudara (Perang Paregreg) untuk menjadi penguasa di Majapahit, faktor dari luar juga menjadi penyebab keruntuhan salah satu kerajaan Hindu terbesar ini, yakni serangan dari Kerajaan Demak yang beragama Islam. Akibat dari hal tersebut, agama Hindu akhirnya surut oleh pengaruh agama Islam, dimana penduduk di Majapahit dan sekitarnya serta pulau Jawa pada umumnya akhirnya beralih keyakinan ke Agama Islam.

Orang orang Majapahit yang tidak mau beralih agama dari Hindu ke Islam akhirnya memilih meninggalkan Majapahit. Mereka memilih tinggal di daerah Pasuruan, Blambangan, Banyuwangi, dimana sebagian besar masyarakatnyamasih memeluk agama Hindu. Selain itu beberapa diantara mereka bahkan menetap di daerah pegunungan, seperti : Pegunungan Tengger, Bromo, Kelud, Gunung Raung (Semeru). Sedangkan beberapa dari mereka yang masih tergolong arya dan para rohaniawan memilih untuk prgi ke Bali, hal itu disebabkan karena saat itu di Bali pengaruh Agama Hindu masih sangat kuat. Oleh karena itu mereka mencari perlindungan di Bali, selain untuk melarikan diri dari Majapahit dan pengaruh Islam di Jawa. Salah seorang dari rohaniawan tersebut adalah Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra.

Danghyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1489 M, pada masa pemerintahan Raja Sri Dalem Waturenggong. Danghyang Nirartha datang ke Bali dalam rangka dharmayatra, akan tetapi dharmayatranya tidak akan pernah kembali lagi ke Jawa. Karena di Jawa (Majapahit) Agama Hindu sudah terdesak oleh Agama Islam. Namun kendatipun demikian, ternyata Danghyang Nirartha juga mempelajari agama Islam, bahkan Beliau menguasai Agama Islam, tetapi keislamannya tidak sempurna. Ini terbukti dari pengikut pengikutnya, yaitu orang orang Sasak di Pulau Lombok yang mempelajari Islam dengan sebutan Islam Telu (Islam Tiga). Ajaran Islam Tiga yang diajarkan di Lombok dapat dilihat pada geguritan Islam Telu (Tiga). Atas jasanya mengajarkan Islam (waktu telu) di Lombok, akhirnya Beliau diber gelar Haji Duta Semu, dimana konon Beliau pernah naik ke Mekkah dengan gelar Haji Gureh dan Islam yang Beliau ajarkan sekarang disebut Islam waktu telu (Islam sholat 3 waktu).

Terlepas dari hal tersebut, Danghyang Nirartha adalah penganut Agama Hindu yang sempurna. Seperti para leluhurnya, Danghyang Nirartha memeluk Agama Siwa, yang lebih condong ke Tantrayana. Agama Siwa yang diajarkan oleh Danghyang Nirartha adalah Siwa Sidhanta, dengan menempatkan Tri Purusa, yaitu Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa. Dari tiga aspek ini Sadasiwalah yang diagungkannya. Untuk itu, dibuatkanlah pelinggih khusus yakni Padmasana, dari sinilah Sadasiwa atau Tuhan Yang Maha Esa,Yang Maha Kuasa, Yang Maha Ada, yang bersifat absolut, dan dipuja oleh semuanya. Oleh karena itu, setiap pura harus memiliki pelinggih Padmasana. Dengan demikian Danghyang Nirartha menjadi pembaharu Agama Hindu di Bali.

Di samping itu, Danghyang Nirartha adalah seorang pengawi, karangannya yang terkenal antara lain : Kidung Gegutuk Menur, Gita Sara Kusuma, Kidung Ampik, Kidung Legaran, Kidung Mahisa langit, Kidung Ewer, Kidung Mahisa Megatkung, Kekawin Dharma Putus, Kekawin Dharma Surya Keling (putus), Kekawin Danawantaka, dan Usana Bali, dan banyak sekali lontar lontar yang memuat ajaran Agama Hindu yang dikaitkan dengan nama besar Danghyang Nirartha.

Sebelum sampai di Bali, Danghyang Nirartha mula mula bertempat tinggal di Kediri, Jawa Timur. Di sini Beliau menurunkan dua orang putra yaitu Ida Ayu Swabhawa, dan Ida Kemenuh. Keturunan Ida Kemenuh menjadi Brahmana Kemenuh di Bali. Sedangkan Ida Ayu Swabhawa kemudian didharmakan di Pura Pulaki dengan nama Dewi Melanting.

Dari Kediri kemudian Danghyang Nirartha pindah ke Pasuruan, di sinipun menurunkan putra putra yaitu Ida Kuluan, Ida Wetan Ida Ler, Ida Lor. Karena ibunya dari Manuaba, maka keturunannya disebut Brahmana Manuaba.

Dari Pasuruan, lalu Danghyang Nirartha pindah ke Blambangan, disinipun Danghyang Nirartha menikah dengan adik Dalem Blambangan, lalu menurunkan : Ida Istra Rai, Ida Sakti Telaga, da, Ida Kaniten. Semua keturunannya ini lalu disebut Brahmana Keniten. Setelah sampai di Bali, Danghyang Nirartha menetap di Desa Mas. Dari sinipun Danghyang Nirartha menikahi anak bendesa Mas. Dari pernikahan in Danghyang Nirartha memiliki putra : Ida Timbul, Ida Alngkajeng, Ida Penarukan, dan Ida Sigaran. Karena beribu Bendesa Manik Mas maka keturunan ini disebut Brahmana Mas, terakhir, Danghyang Nirartha juga menikahi pajroannya Putri Bendesa Mas, lalu menurunkan Ida Petapan.

Dengan demikian, putra putra Danghyang Nirartha masing masing melekatkan identitas sendiri : Brahmana Kemenuh, brahmana Manuaba, Brahman Kaniten, Brahmana Mas, dan Brahmana Patapan. Dalam upacara karya agung di Pura Besakih, Sri Dalem Waturenggong mengundang Danghyang Angsoka. Tapi karena sudah terlalu tua, maka diutuslah putranya ke Bali, yaitu Danghyang Astapaka. Kemudian Danghyang Astapaka mewakili unsur Pandita Budha, dan akhirnya menetap di Bali. Dalam perkembangan selanjutnya, Danghyang Nirartha diangkat menjadi Nabe, sekaligus sebagai pendeta utama kerajaan Gelgel.

Semenjak kedatangan dua pandita ini di Bali, maka kedudukan para empu yang tadinya sebagai purohito kerajaan mewakili unsur Siva Budha dan Rsi Bhujangga yang mewakili unsur Waisnava diganti kedudukannya oleh mereka berdua. Dan unsur dari Bhujangga Waisnava tidak di ikut sertakan dalam hal kepanditaan dan kerohanian di dalam kerajaan. Bahkan dalam bidang kemasyarakatan Dang hyang Nirartha dengan restu Dalem membuat sturkturisasi pelapisan masyarakat di Bali. Pada mulanya masyarakat Bali menganut sistem varnasrma, lalu disusun berdasarkan wangsa, yang dalam istilah Barat (terutama Portugis) disebut kasta. Dimana keluarga dan keturunan Danghyang Nirartha dan Danghyang Astapaka menduduki pos sebagai Brahmana Wangsa. Kesatria Wangsa di isi oleh para keluarga Dalem dan para kerabat keluarga kerajaan. Para Arya didudukkan sebagai vaisya wangsa dan dari sudra adalah mereka di luar warga tadi, dengan tidak melihat asal-usul mereka di dalamnya termasuk warga Pasek dan Bhujangga. Dimana golongan ini dikenal dengan sebutan "Wang Jaba".

Untuk meresmikan hal ini di masyarakat, struktur baru ini dimasukkan dalam lontar-lontar pedoman seperti Widhisastra Saking Nithi Danghyang Dwijendra. Namun warga Pasek yang digolongkan sudra diperkenankan menjadi pandita, hal ini karena antara keluarga Danghyang Nirartha dan keluarga Pasek masih memiliki hubungan keluarga. Kalau dilihat lagi dari asal usulnya Danghyang Nirarta adalah putra dari Danghyang Smaranatha, Danghyang Smaranatha adalah putra Mpu Tantular, Mpu Tantular adalah putra Mpu Bahula dengan Dyah Ratnamanggali, sedangkan orang tua dari Mpu Bahula adalah Mpu Bharadah dari pihak ayah. Sedangkan dari pihak ibu, Mpu Bahula adalah keturunan Mpu Kuturan.

Baik Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah adalah saudara dari Mpu Gnijaya yang tidak lain adalah leluhur para Warga Pasek, jadi dapat dikatakan mereka dalah sama-sama keturunan Bhatara Hyang Pasupati yang berparahyangan di gunung Mahameru India. Walaupun demikian, para Warga Pasek pada saat diksa (inisiasi) hanya menggunakan gelar Dukuh saja. Strukturisasi masyarakat seperti ini mulai diberlakukan di Bali, akhirnya sistem wangsa ini diterapkan dalam segala kehidupan bermasyarakat di Bali. Hal ini terbukti dari pelaksanaan upacara ngaben, pengarge tirtha pengentas, surat kajang dan atribut-atribut lainnya dalam upakara. Hal ini selalu di kaitkan dengan wangsa brahmana selaku pemegang kebijakan dalam pelaksanaannya di masyarakat. Selanjutnya, sebutan pandita untuk brahmana Siwa dan Budha dari keluarga Danghyang Nirartha tidak lagi memakai istilah Danghyang atau Mpu, melainkan menggunakan istilah Pedanda. Danda bisa berarti hukum dan bisa berarti tongkat. Jadi yang dimaksud pedanda adalah pemegang hukum atau pemegang tongkat. Demikianlah akhirnya putra-putra Danghyang Nirartha dan Danghyang Astapaka lalu disebut pedanda bagi yang telah di diksa (inisiasi). Hal lain, yang juga berlaku adalah rakyat biasa atau wang jaba/sudra tidak diperkenankan mempelajari veda, tanpa seijin dari wangsa brahmana, kalau sampai ada yang melanggar akan dikenakan hukuman berat.

Selanjutnya, putra-putra Danghyang Nirartha di Bali menurunkan keturunannya masing-masing. Ida Kuluan Brahmana Manuaba menurunkan Pedanda Penida di Wanasari dan Pedanda Temban di Tembau. Pedanda Temban adalah seorang pengawi kidung Wedari Smara dan kidung Brahmana Cangupati. Pedanda Weser dan Pedanda Batulumpang. Ida Wetan berputra Pedanda Panida, Pedanda Tegal Suci di Manuaba. Pedanda Lor berputra Pedanda Mambal yang beribu dari Pasuruan. Pedanda Ler berputra Pedanda Teges beribu dari Srijati. Ida Sakti Telaga (Brahmana Kaniten) berputra Pedanda Gusti dan Pedanda Alang kajeng yang berputra Pedanda Sangsi dan Pedanda Mas.

Ida Patapan berputra Ida Ketut Tabanan, Ida Kukub di Tabanan dan Ida Ngenjuk di Lombok. Pedanda Lor juga beristri putri dari I Gusti Dauh Bale Agung yang menurunkan Pedanda Buruan yang bergelar Pedanda Manuaba yang berasrama di Manuaba, Gianyar. Pedanda Sakti Manuaba beristri dari Bajangan, lalu berputra pedanda Gde Taman di Sidawa, Taman Bali, Bangli yang berasrama di bukit Buwung di Sidawa. Pedanda Bajangan berasrama di bukit Bangli. Pedanda Abian di Telaga Tawang dan Pedanda Nengah Bajangan di Bukit. Pedanda Sakti Manuaba juga beristri putri Gajah Para dari Tianyar, lalu berputra pedanda wayahan Tianyar, Pedanda Nengah Tianyar, dan Pedanda Ketut Tianyar. Sedangkan Ida Kemenuh, putra Danghyang Nirartha yang tertua dengan keturunannya disebut Brahmana Kemenuh. Keturunan Ida Kemenuh disebut juga Brahmana Kediri. Sekianlah banyaknya keturunan Danghyang Nirartha di pulau Bali dan Lombok.

Pada waktu melakukan Dharmayatra ke Bali dari Daha, Jawa Timur. Danghyang Nirartha banyak mendirikan Pura Pura terutama di daerah selatan pulau Bali, seperti Pura Rambut siwi, Pura Melanting, Pura Er Jeruk, Pura Petitenget dan lain-lain. Pura-pura yang didirikan oleh Danghyang Nirartha ini dikenal dengan Pura Dang Kahyangan. Selain di Bali, Danghyang nirartha juga melakukan dharmayatra ke Lombok dan Sumbawa. Bahkan di Sumbawa Danghyang Nirartha dikenal dengan sebutan Tuan Semeru. Sedangkan di Lombok dikenal dengan sebutan Haji Duta Semu, dan di Bali Danghyang Nirartha dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rawuh.

Ada dua Bhisama dari danghyang nirarta kepada seluruh keturunannya, yaitu;

1. Seluruh keturunannya tidak diperkenankan menyembah pratima (arca-arca perwujudan).

2. Seluruh keturunanya tidak diperkenankan sembahyang di Pura yang tidak memakai atau tidak ada pelinggih Padmasana.

Akhirnya setelah mendiksa semua putra-putranya menjadi pedanda, lalu Danghyang Nirartha menuju Pura Luhur Uluwatu dan mencapai moksa di sana.

Hingga saat ini, peninggalan Danghyang Nirartha masih daat di lihat, seperti pura pura di Bali yang dikenal dengan nama Pura Dang Kahyangan. Di dalam masyarakat Bali masih dapat di lihat strukturisasi masyarakat yang disebut wangsa dengan ciri-ciri nama sebagai berikut :

1. Wangsa Brahmana dikenal dengan sebutan Ida Bagus dan Ida Ayu.

2. Wangsa Kesatria dapat dikenali dengan sebutan Anak Agung dan Anak Agung Ayu.

3. Wangsa Vaisya dapat dikenali dengan sebutan I Dewa, I Gusti, I Dewa Ayu, Desak, I Gusti Ayu, Ngakan dan lain-lain,

4. Sedangkan mereka yang disebut sudra atau dalam istilah Balinya dikenal dengan "Wang Jaba" dapat dikenali dengan sebutan I Gede, I Wayan, I Putu, I Made, I Nyoman, I Ketut dan lain sebagainya.

Walaupun saat ini tidak seperti pada masa-masa kerajaan, namun pengaruhnya masih terasa sampai saat ini. Terutama pada saat upacara agama dan adat.

Dalam hal keyakinan (Agama Hindu) dapat dilihat peninggalannya berupa padmasana. Walaupun dalam Bhisamanya Danghyang nirarta melarang semua keturunanya menyembah pratima (arca arca perwujudan), namun Danghyang Nirarhta mengagungkan Sadasiwa, sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, yang Maha Segalanya dan hampir di semua pura di Bali saat ini terdapat pelinggih padmasana untuk mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.

Pemahaman yang Salah Tentang Kasta di Bali


Sampai saat ini umat Hindu di Indonesia khususnya di Bali masih mengalami polemik masalah Kasta. Hal ini menyebabkan ketidaksetaraan status sosial diantara masyarakat Hindu. Masalah ini muncul karena pengetahuan dan pemahaman yang dangkal tentang ajaran Agama Hindu dan Kitab Suci Weda yang merupakan pedoman yang paling ampuh bagi umat Hindu agar menjadi manusia yang beradab yaitu memiliki kemampuan bergerak (bayu), bersuara (sabda) dan berpikir (idep) dan berbudaya yaitu menghormati sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tanpa membedakan asal usul keturunan, status sosial, dan ekonomi.

Pada masyarakat Hindu di Bali,terjadi kesalahan dan kekaburan dalam pemahaman dan pemaknaan warna, kasta, dan wangsa yang berkepanjangan. Dalam agama Hindu tidak dikenal istilah Kasta. Istilah yang termuat dalam kitab suci Veda adalah Warna. Apabila kita mengacu pada Kitab Bhagavadgita, maka yang dimaksud dengan Warna adalah Catur Warna, yakni pembagian masyarakat menurut Swadharma (profesi) masing-masing orang. Sementara itu, yang muncul dalam kehidupan masyarakat Bali adalah Wangsa, yaitu sistem kekeluargaan yang diatur menurut garis keturunan. Wangsa tidak menunjukkan stratifikasi sosial yang sifatnya vertikal (dalam arti ada satu Wangsa yang lebih tinggi dari Wangsa yang lain). Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada warga masyarakat yang memiliki pandangan bahwa ada suatu Wangsa yang dianggap lebih tinggi daripada Wangsa yang lain. Untuk merubah pandangan seperti ini memang perlu sosialisasi dan penyamaan persepsi. Oleh karena itu, lebih baik tidak diperdebatkan lagi.

Wiana (2000) menjelaskan perbedaan antara warna dan kasta. Warna merupakan penggolongan masyarakat berdasarkan fungsi dan profesi. Dalam ajaran Agama Hindu dikenal adanya empat warna/Catur Warna yaitu brahmana-orang-orang yang bertugas untuk memberikan pembinaan mental dan rohani serta spiritual, ksatria-orang orang yang bertugas untuk mengatur negara dan pemerintahan serta rakyatnya, waisya-orang yang bertugas untuk mengatur perekonomian, dan sudra-orang yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi pelayan atau pembantu orang lain.

Warna dan gelar serta namanya sama sekali tidak diturunkan atau diwariskan ke generasi berikutnya. Warna tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Artinya, warna bisa berubah setiap saat sesuai dengan fungsi dan profesinya, sebagai contoh; seorang yang berasal dari golongan sudra karena ketekunannya dalam belajar dan bekerja berhasil menjadi seorang polisi atau tentara maka secara otomatis golongannya meningkat menjadi seorang ksatria yang bertugas untuk membela dan mempertahankan kedaulatan negara. Bisa saja seorang brahmana yang melakukan tindak kejahatan seperti; pencurian, pemerkosaan, perjinahan dan tinakan melawan hukum lainnya turun derajatnya menjadi golongan yang lebih dan bahkan paling rendah karena perbuatannya sehingga harus menjalani hukuman penjara dan setelah selesai menjalani hukuman akan kembali bergabung dengan masyarakat dan tidak tahu lagi akan menjadi bergelut dalam bidang apa.

Hubungan di antara golongan pada warna hanya dibatasi oleh "dharma"-kewajiban yang berbeda-beda tetapi menuju satu tujuan yakni kesempurnaan hidup. Jadi, catur warna sama sekali tidak membeda-bedakan harkat dan martabat manusia dan memberikan manusia untuk mencari jalan hidup dan bekerja sesuai dengan sifat, bakat, dan pembawaannya sejak lahir hingga akhir hayatnya.

Sedangkan kasta merupakan penggolongan status sosial masyarakat dengan mengadopsi konsep catur warna (brahmana, ksatria, wesyia, dan sudra) yang gelar dan atribut namanya diturunkan dan diwariskan ke generasi berikutnya. Artinya, walaupun keturunannya tidak lagi berprofesi sebagai pendeta atau pedanda tetapi masih menggunakan gelar dan nama yang dimiliki leluhurnya yang dulunya menjadi pendeta atau pedanda. Ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang yang belum tentu atau tidak memiliki sifat-sifat brahmana harus disebut sebagai brahmana, dan juga terjadi pada kasta yang lainnya.

Terlebih lagi nama dan gelar warisan masing-masing leluhurnya sekarang ini semakin diagung-agungkan dan digunakan untuk mempertajam kesenjangan di antara golongan kasta yang ada. Tetapi, jika nama dan gelarnya yang dipakai keturunannya hanya dijadikan sebagai tanda penghormatan kepada leluhurnya, maka tindakan ini merupakan tindakan yang sangat mulia dan terhormat.

Konsep kasta sangat bertentangan dengan konsep warna dalam ajaran agama hindu. Namun, kesalahan pemahaman tentang kasta dan warna masih saja terjadi dan terus berlangsung hingga sekarang ini. Jika terjadi kesalahpahaman yang berkelanjutan maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi konflik, perpecahan, dan kekacauan di masa yang akan datang.

Tidak dapat dipungkiri banyak konflik yang terjadi akibat perbedaan kasta ini, seperti Konflik antar masyarakat yang terjadi pada Bulan Maret 2007 di Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung-Bali merupakan salah satu buntut dari tidak harmonisnya hubungan antara kaum brahmana dan sudra. Puluhan rumah kaum "kasta brahmana" dirusak dan dihanguskan oleh masyarakat sehingga masyarakat yang rumahnya hancur harus dievakuasi dan diamankan serta ditampung di MAPOLRES (Markas Polisi Resor) Klungkung. Perlu dipertanyakan kenapa ini terjadi? Tak bisa dibayangkan lagi bagaimana benci dan marahnya masyarakat terhadap kaum brahmana sehingga tega melakukan hal-hal yang anarkis ini. Belum ada penjelasan dari aparat berwenang mengenai penyebab kejadian ini. Walaupun demikian, patut diacungi jempol para masyarakat di sana bisa berdamai dan hidup berdampiangan kembali serta membuat pernyataan damai di antara masyarakat yang berkonflik.

Dari penjelasan diatas jelas sudah perbedaan pandangan mengenai kasta, warna, dan wangsa. Kita sebagai umat Hindu yang memiliki intelektual sudah menjadi kewajiban memahami konsep ini agar tidak terjadi pandangan yang salah yang dapat menyebabkan kesenjangan sosial antarumat Hindu lebih-lebih bisa menyebabkan konflik yang berkepanjangan. Namun, sekarang ini nampaknya ada usaha-usaha untuk semakin mempertajam kesenjangan umat Hindu khususnya di Bali. Sebagai contoh mengenai pembagian wewenang, hak dan kewajiban pendeta. Pedanda (pendeta yang berasal dari kalangan Kasta Brahmana) memiliki wewenang yang jauh lebih tinggi dari pada pemangku (pendeta yang berasal dari Kasta Sudra). Pendanda bisa menyelesaikan kelima upacara keagamaan yang ada dalam agama hindu di Bali yang lazim disebut sebagai Panca Yadnya yaitu:

(1) Dewa yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan kepada Tuhan dan manifestasinya seperti odalan di pura-pura baik pura sad khayangan (pura umum yang bisa dikunjungi dan disembahyangi oleh semua umat hindu tanpa membedakan asal-usul keturunan) pura dang kayangan (pura yang sempat disinggahi oleh Dang Hyang Niratha-penyebar Agama Hindu dari Jawa) maupun pura keluarga atau merajan;

(2) Rsi yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan untuk para rsi atau upacara penyucian manusia seperti upacara dwi jadi (pengukuhan stutus dari masyarakat biasa menjadi pedanda atau pemangku);

(3) Manusia yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan untuk manusia seperti upacara bayi tujuh bulan dalam kandungan (magedong-gedongan), upacara satu bulan tujuh hari setelah bayi lahir (tutug kambuhan), upacara tiga bulan setelah bayi lahir (nelu bulanin), enam bulan setelah lahir (otonan), upacara potong gigi, dan upacara pernikahan (mewidhi- wedhana);

(4) Pitra yadnya-upacara yang ditujukan kepada pitara atau orang yang sudah meninggal seperti upacara ngaben, ngeroras, dan nuntun;

(5) Butha yadnya-upacara yang ditujukan kepada bhuta kala yang bertujuan untuk menyeimbangkan dunia dari pengaruh positif dan negatif.

Sedangkan pendeta yang berasal dari kalangan kasta lain tidak bisa menyelesaikan kelima upacara agama tersebut di atas. Pembagian wewenang ini tanpa berlandaskan sumber yang jelas dan sering kali berasal dari justifikasi dan penapsiran orang atau kalangan tertentu saja.

Sistem pembagian tugas dan wewenang pendeta ini hanya cocok diberlakukan di Bali saja karena tidak semua umat Hindu di seluruh Indonesia maupun dunia memiliki pendeta yang berasal dari golongan kasta brahmana.

Dalam Bhagawad Gita secara jelas disebutkan bahwa dasar persembahan kepada Tuhan adalah "keiklasan" dan sama sekali tidak berdasarkan besar atau kecilnya persembahan dan siapa yang menyelesaikan upacara karena semua manusia sama di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Apa yang dijelaskan di dalam ajaran suci Agama Hindu ini juga mempertegas bahwa tidak ada perbedaan di antara kita semua. Kita semua mahluk Tuhan dan tak perlu lagi ada pengkotak-kotakan yang berakibat pada perpecahan. Cintailah semua ciptaan Tuhan, semoga damai!

Sumber: www.parisada.org

Filosofi brahmana

ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)

Pengenalan

Dalam dunia kuno dan bahkan dalam masyarakat modern orang biasanya membentuk kelompok-kelompok kohesif berdasarkan bahasa, budaya dan lokasi geografis. Kelompok-kelompok ini memiliki nenek moyang yang sama dan dipimpin oleh kepala-kepala keluarga sekitar yang mereka kumpulkan. Masyarakat seperti ini disebut suku 1 . Ada suku yang tak terhitung di dunia ini. Benua India tidak berbeda dari seluruh dunia 1b sejauh suku dan persaingan di antara mereka yang bersangkutan.

Tampaknya ada dua macam suku di benua India, suku-suku dan kasta 2 . Suku-suku yang masih di hutan dan bukit-bukit dan tidak benar-benar bagian dari masyarakat modern. Kasta telah tinggal di desa-desa dan kota-kota sejak zaman kuno dan beradab. Di Benua India, kasta berarti suku beradab modern atau klan atau sekelompok orang yang memiliki hubungan perkawinan antara mereka. Beberapa kasta dibagi lagi menjadi subcastes. Hubungan perkawinan antara subcastes tidak dapat diterima karena perbedaan dalam praktik agama dan budaya. Penting untuk dicatat bahwa kasta atau suku adalah darah-terkait dan genetik, dan karenanya turun-temurun. Jadi, orang harus lahir dalam kasta atau suku menjadi milik bahwa suku atau kasta. Sekali lagi, ini tidak unik ke India. Tradisi-tradisi suku kuno yang perlahan menghilang di modern ini usia 3. Satu di antara komunitas-komunitas seperti di benua India adalah kasta Brahmana. Untuk konsistensi dalam artikel ini, Brahmana disebut sebagai sebuah kasta.

Brahmana Populasi 4

Sensus 1881 dicacah 1.929 kasta. Brahmana, Kunbis dan Chamars menyumbang sekitar 10 juta masing-masing. Dari jumlah tersebut 1.929 kasta, 1432 (74 persen) adalah kelompok geografis lokal dan masing-masing kasta atau suku yang unik untuk tempat tertentu. Hanya beberapa kasta Brahmana seperti memiliki kehadiran seluruh India.

Brahmana adalah salah satu kelompok minoritas di India. Pada tahun 1931, Brahmana adalah 4,32% dari total populasi. Minoritas yang disebut Muslim di India adalah sekitar 20 sampai 25 persen dari total populasi, bahkan setelah Muslim Pakistan dan Muslim Bangladesh terpisah dari India. Namun, persentase muslim yang terdaftar adalah hanya ~ 15%, kurang dari persentase nyata dari total populasi, karena keliru. Brahmana bahkan di Uttar Pradesh, di mana mereka paling banyak, merupakan hanya 9 persen. Di Tamil Nadu mereka membentuk kurang dari 3 persen dan di Andhra Pradesh mereka kurang dari 2 persen.

Selama penaklukan Islam di India, itu adalah kebijakan khas untuk tunggal keluar Brahmana untuk dipotong, setelah pejuang Hindu telah berdarah sampai mati di medan perang. Bahkan Portugis di Malabar dan Goa mengikuti kebijakan ini dalam abad ke-16, sebagaimana dapat disimpulkan dari Hindu-Portugis klausul perjanjian untuk melarang Portugis dari Brahmana membunuh. ( http://sarvadharma.org/Museum/Articles/islamicgenocide.htm )

Lokasi geografis

Brahmana adalah orang-orang Vedik. Veda menggambarkan lanskap India utara, Pakistan dan Afghanistan. Berulang Veda menyebutkan sungai besar disebut Saraswati mana Brahmana masyarakat berkembang, di mana peradaban Lembah Indus berkembang dan tersebar ketika sungai Saraswati kering sekitar tahun 1900 SM. Jauh sebelum, selama periode Brahmana Ramayana bermigrasi ke Dandakaranya (Dandaka Forest) di selatan dengan Viswamitra, penulis himne beberapa mantra Gayatri Rgveda termasuk, dan dipraktekkan Vedik religon melakukan Yajna di bawah perlindungan Tuhan Rama dan Lakshmana. Jauh sebelum Rama pergi ke selatan, Agastya, seorang bijaksana Brahmana terkemuka dan penulis himne beberapa Rgveda, menyeberangi Vindhyas dan mendirikan agama Vedik di India selatan. Sage Agastya Rama tampak ketika ia putus asa pada perang yang akan datang dengan Rahwana dan menyuruhnya dalam penggunaan Aditya Hridayam, sebuah hymne memuji Allah Sun. Brahmana telah bermigrasi ke berbagai daerah di Benua India sejak zaman dahulu dan baru-baru ke benua lain juga.

Arti "Brahmana"

Para Brahmana kata berarti banyak hal untuk banyak orang mengakibatkan kebingungan. Salah satu alasan untuk kebingungan ini adalah bahasa Sansekerta 5 . Banyak kata dalam bahasa Sansekerta memiliki banyak arti 6 . Tergantung pada satu konteks harus mengambil makna dari kata tersebut. Kata Brahmana (selanjutnya disebut "Brahmana") berarti Allah, yang mengenal Allah, orang yang memiliki pengetahuan tentang Allah, orang yang memiliki pengetahuan tentang Weda, seorang intelektual, seorang imam, guru, profesor, orang milik brahmana kasta, orang yang unggul, sebuah teks yang berkaitan dengan Veda, dan sebagainya 7 . Oleh karena itu, imam di sebuah masjid, gereja, sinagog, sebuah gurudwara dll semua Brahmana karena mereka semua, jelas, imam. Mereka juga Brahmana karena mereka seharusnya memiliki pengetahuan tentang Allah. Mereka juga Brahmana karena mereka kaum intelektual. Namun, tidak satupun dari mereka adalah Allah dan setidaknya beberapa dari mereka akan menganggap blesphemous untuk mengatakan begitu. Mereka mungkin tidak memiliki pengetahuan tentang Weda dan mereka mungkin tidak termasuk dalam kasta Brahmana. Dan tentu saja, mereka tidak terkait dengan teks-teks Weda. Untuk menambah kebingungan ini ada Boston Brahmana yang Amerika dan tidak ada hubungannya dengan Veda atau vegetarian. Mereka bahkan tidak jauh terkait dengan Benua India.

Ada ratusan agama, praktek-praktek, tradisi, kasta, dll suku dikenal sebagai Hindu. Satu di antara agama-agama adalah Brahminism 8 dipraktekkan oleh kasta Brahmana. Brahmana memiliki tradisi yang berbeda, budaya dan agama dan mengikuti prinsip-prinsip dan praktik tertentu. ini agama 9 juga dapat disebut Sanatana (kuno) Dharma atau agama Veda. Namun, ada banyak kebingungan mengenai definisi Hinduisme 10 , yang meliputi segala adat ke Benua India, misalnya, beberapa kelompok Indian seperti Busddhists, Jain, Sikh, dalit Kristen, Muslim, dan orang-orang seperti Iliah Kanche, sebuah Kuruma Christian, confuse Brahminism with Hinduism (Indigenous Religions of Indian Continent). Iliah Kanche declares that he is not a Hindu, because he does not follow any of the principles of Brahmins such as vegetarianism etc. However, Brahminism is only one of the many religions of India that are collectively called Hinduism. Yet, almost all other Indian (Hindu) religions also respect the Vedas because they are essentially the human heritage and the most ancient texts. The Rig Veda was declared by UNESCO as part of the world heritage.

Sejarah agama hindu di indonesia

ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)

Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: “Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman”. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan “Vaprakeswara”.

Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.

Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa “Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu”

Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi.

Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: “Sruti indriya rasa”, Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.

Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.

Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia.

Setelah dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari.

Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama.

Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8.

Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.

Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung).

Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Arti Purnama dan Tilem

ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)

Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu, dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. Hari Purnama, sesuai dengan namanya, jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali.

Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra, sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya. Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan:

'Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda, makadi, Sanghyang Surya Candra, atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga, yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika, para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana, ngaturang wangi-wangi, canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar, Parhyangan, matirtha gocara puspa wangi"

Ada hari-hari utama penyelenggaraan upacara persembahyangan sejak dulu sama nilai keutamaanya yaitu hari Purnama dan Tilem. Pada hari Purnama, bertepatan dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem, bertepatan dengan Sanghyang Surya beyoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi. Pada hari suci demikian itu, sudah seyogyanya kita para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi.

Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan lahir batin. Karena itu, disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrah-Nya, umat juga hendaknya melakukan pembersihan badan dengan air.

Kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran, perkataan dan perbuatan yang bersih pula. Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan, terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi.

cyberdharma.net :

Tilem

Hari Tilem adalah merupakan Prabhawa dari Sang Hyang Rudra sebagai perwujudan Sang Hyang Yamadipati (Deva kematian) yang memiliki kekuatan pralina (Pamuliha maring sangkan Paran).

Oleh karena itu umat Hindu secara tekun melaksanakan persembahan dan pemujaan kehadapan Sang Hyang Widhi. Persembahan hari Tilem dimaksudkan agar umat Hindu yang tekun melaksanakan persembahan dan pemujaan pada hari Tilem, ketika meninggal rohnya tidak diberikan jalan yang sesat (neraka), namun sebaliknya agar diberikan jalan ke swarga loka oleh Sang Hyang Yamadipati (lontar Purwana Tattwa Wariga).

Oleh karena itu menurut petunjuk sastra Agama Hindu ”Lontar Purwa Gama” menuntun umat Hindu agar selalu ingat melaksanakan suci laksana, khususnya pada hari Purnama dan hari Tilem, untuk mempertahankan serta meningkatkan kesucian diri, terutama para Wiku, untuk mensejahterakan alam beserta isinya karena semua mahluk akan kembali ke hadapan yang Maha Suci, tergantung dari tingkat kesucian masing-masing.

Proses penyucian diri, menurut petunjuk Sastra Agama yang penekannya pada, ”Suci Laksana”, karena pada pelaksanaannya mengandung makna yang sangat tinggi, dalam arti pada penekanan tersebut sudah terjadi penyatuan dari pelaksanaan Catur Yoga, sehingga atas kekuatan dari Catur Yoga tersebut dapat menyucikan Stula Sarira (badan Kasar), dan Suksma Sarira (badan halus) dan Antahkarana Sarira (Atma), yang ada pada diri manusia khususnya umat Hindu.

Purnama

Pada umumnya di kalangan umat Hindu, sangat meyakini mengenai rasa kesucian yang tinggi pada hari Purnama, sehingga hari itu disebutkan dengan kata ”Devasa Ayu”. Oleh karena itu, setiap datangnya hari-hari suci yang bertepatan dengan hari Purnama maka pelaksanaan upacaranya disebut, ”Nadi”. Tetapi sesungguhnya tidak setiap hari Purnama disebut ayu tergantung juga dari Patemon dina dalam perhitungan wariga.

Contoh :

• Hari Kajeng Keliwon, jatuh pada hari Sabtu, nemu (bertemu) Purnama, disebut hari itu, ”Hari Berek Tawukan”. Dilarang oleh sastra agama melaksanakan upacara apapun, dan Sang Wiku tidak boleh melaksanakan pujanya pada hari itu (Lontar Purwana Tatwa Wariga).

• Bila Purnama jatuh pada hari Kala Paksa, tidak boleh melaksanakan upacara agama karena hari itu disebut, ”Hari gamia” (jagat letuh). Sang Wiku tidak boleh memuja.

Di dalam Lontar ”Purwana Tattwa Wariga” diungkapkan antara lain : ”RISADA KALA PATEMON SANG HYANG GUMAWANG KELAWAN SANG HYANG MACELING, MIJIL IKANG PREWATEKING DEVATA MUANG APSARI, SAKING SWARGA LOKA, PURNA MASA NGARAN”.

Menyimak dari isi petikan lontar diatas, bahwa Sang Hyang Siva Nirmala (Sang Hyang Gumawang) yang beryoga pada hari purnama, untuk menganugrahkan kesucian dan kerahayuan (Sang Hyang Maceling) terhadap seisi alam dan Hyang Siva mengutus para Deva beserta para Apsari turun ke dunia untuk menyaksikan persembahan umat manusia khusunya umat Hindu kehadapan Sang Hyang Siva.

Oleh karena itulah disebut Piodalan nadi, Galungan nadi, sehingga ada penambahan terhadap volume upakaranya. Disamping itu karena Hyang Siva merupakan Devanya Sorga, maka umat Hindu selalu tekun menghaturkan persembahan serta memujanya kehadapan Hyang Siva setiap datangnya hari Purnama dengan harapan bagi umat Hindu agar nantinya setelah ia meninggal, rohnya bisa diberikan tempat di Sorga, atau kembali ke alam mokshah.

Om Shantih Shantih Shantih Om

Kajeng kliwon

ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)

HARI HARI RAYA DI BALI

Rerahinan / Yadnya yang dilakukan berdasarkan Triwara dengan Pancawara Hari Keliwon

Hari Keliwon dalam panca wara datang tiap-tiap lima hari sekali. Pada tiap-tiap hari Keliwon, bersemadilah Sang Hyang Çiwa. Umat Hindu di Bali harus menyucikan cita (budhi) dengan metirtha gocara. Dilaksanakan dengan cara menghaturkan canang serta wangi-wangian di sanggah dan di atas tempat tidur. Selanjutnya dihaturkan canang reresik wangi-wangian di Parhyangan dan di Kahyangan.

Yadnya ini ditujukan ke hadapan Sang Hyang Ciwa, yaitu ke hadapan Ida Sang Widhi Wasa, kemudian di natar sanggah/ pemerajan, di natar rumah dan menghadap pintu gerbang pekarangan, dihaturkan segehan beberapa nasi kepel (sesuap nasi) lauknya bawang jahe. Tiap set segehan itu terdiri dari 2 kepel dan disuguhkan 3 set (tanding).

Di natar sanggah/pemerajan kepada Sang Bhuta Bucari
Di natar rumah kepada Sang Kala Bucari.
Di hadapan pintu gerbang pekarangan kepada Sang Durgha Bucari.

Dari Sang Tiga Bucari itu kita memohon, agar memberi keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga kita, serta memperoleh kesempurnaan hidup dan kebahagiaan.Setelah selesai menghaturkan upacara-upacara itu, lalu bersembahyang kehadapan Dewa Bhatara, terutama kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, mohon keselamatan dunia dan segala isinya.

Hari Kajeng Keliwon.

Hari Kajeng Keliwon datangnya 15 hari sekali. Upacara dan upakara-upakara yang wajîb dilakukan pada hari Kajeng Keliwon ini, hampir sama dengan upacara dan upakara yang dilakukan pada hari Kliwon sebagai yang telah diuraikan di atas.

Hanya saja segehan-segehannya bertambah dengan nasi-nasi kepel lima warna, yaitu: merah, putih, hitam, kuning, brumbun

Tetabuhannya adalah tuak/ arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan canang burat wangi dan canang yasa. Semuanya itu dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Durgha Dewi. Di bawah / di tanah dihaturkan segehan, dipersembahkan kepada Sang Butha Bucari, Sang Kala Bucari, dan Sang Durgha Bucari.

Agar mendapat keselamatan, kesentosaan dan hidup bahagia, patutlah petunjuk-petunjuk tersebut dilakukan dengan penuh keyakinan, dengan hati budi yang hening suci dan tulus ikhlas

Potong gigi

ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)



Potong gigi......????? Wuiiiiihhhhh...... Ngeri sekali ya dan nyebayanginnya aja ngilu apalagi ngelaksanaainnya....... Khan ngerusak email gigi tuh???? Dan begitu banyak lagi pertanyaanya di benak kita......

Sejak masih berumur satu hari, setiap orang Bali dipenuhi dengan banyak ritual atau upacara agama dalam hidupnya. Mulai dari upacara saat kelahirannya samapai kematiannya. Salah satunya adalah upacara Metatah/Mesangih.

Upacara Metatah/Mesangih dalam bahasa Bali merupakan upacara keagamaan yang wajib dilakukan oleh pemeluk agama Hindu Bali baik itu laki-laki atau perempuan yang telah beranjak remaja atau telah akil balik untuk menuju satu babak hidup memasuki usia dewasa secara niskala.

Upacara Metatah bertujuan membunuh enam musuh dalam diri manusia yang dinggap kurang baik bahkan sering

dianggap musuh dalam diri sendiri.

Enam

musuh itu yang disebut dengan

Sad Ripu.

Sad Ripu itu meliputi:

1. Kama (hawa nafsu yang tidak terkendalikan) 2. Loba (ketamakan, ingin selalu mendapatkan yang lebih.) 3. Krodha (marahyang melampaui batas dan tidak terkendalikan).) 4. Mada (kemabukan yang membawa kegelapan pikiran)

5. Moha (kebingungan/ kurang mampu berkonsentrasi

sehingga akibatnya individu tidak dapat menyelesaikan tugas

dengan sempurna.) 6. Matsarya (iri hati/ dengki yang menyebabkan permusuhan.)

Jadi potong gigi bukan semata-mata untuk mencari keindahan tetapi mempunyai tujuan yang sangat mulia.

KEKUATAN SUPRANATURAL

Bagi keluarga Jro Mangku Wayan Rajin upacara ini sangatlah penting, karena salah satu tugas mereka sebagai orangtua sudah mereka jalani yaitu mendampingi anak-anaknya hingga sampai dewasa.

Prosesi potong gigi hanya merupakan simbolisasi saja. Gigi yang ada bukan dipotong tetapi diratakan dengan menggunakan kikir. Ada 6 gigi atas yang diratakan, termasuk gigi taring, ke 6 gigi inilah yang melambangkan Sad Ripu.

Hanya memakan waktu sekitar 10 – 15 menit untuk melakukan prosesi ini, dan yang melakukannya haruslah seorang yang ahli yang disebut sangging.

Para sangging biasanya orang yang telah di inisiasi menjadi Pinanditayang memang memiliki ketrampilan untuk itu.

Dalam kesempatan kali ini yang melakukan metatah adalah Sangging Alak Ketig, mantra-mantra dilafalkan oleh sangging sebelum melakukan tugasnya supaya upacara berjalan dengan lancar dan semuanya dilakukan di bale keluarga.

Sangging, yang juga memiliki kekuatan supranatural ini lalu mengeluarkan sebuah cincin merah delima dan menuliskan rajahan"Ongkara" pada gigi dan dada. Cincin ini berfungsi sebagai proteksi dari serangan ilmu hitam dari orang yang tak suka pada mereka, dan juga tempat metatah biasanya juga dijaga ketat oleh beberapa orang anggota keluarga dan juga yang memiliki kekuatan supranatural.

Tak jarang pula terdengar kabar orang yang ditatah menjadi sakit, giginya rontok bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

Oleh karena itu upacara metatah tak pernah dilakukan hingga sang surya berada di puncak langit.

Mulut putra dari Jro Mangku Wayan Rajin satu persatu sebelum upacara dimulai, bagian mulut mereka diganjal terlebih dahulu dengan potongan dari kayu dadap atau tebu dan kumur-kumur dengan air perasan kunir lalu diakhiri dengan mengigit daun sirih pertanda berakhirnya proses metatah. Air liur yang keluar yang keluar ditampung dalam sebuah kelapa gading dan biasanya dipegang oleh ibu kandung.

Setelah itu merekapun diperciki dengan air suci atau Tirtha Pembersihan/Penyucian oleh Sangging Ala Ketig.

Lalu Gedhe, Kadek dan Komang pun bersembahyang di merajan keluarga, dipimpin oleh seorang pedanda untuk memohon perlindungan dari Sang Hyang Widi Wasa untuk memasuki tahapan baru dalam hidup mereka. Kepada leluhur mereka minta didoakan dan direstui jalan hidupnya yang dilambangkan dengan Kewangen.

Prosesi ini memang membutuhkan biaya yang sangat mahal, karena prosesinya membutuhkan beberapa kelengkapan sesajen dan juga banyak keluarga yang hadir, apalagi saat ini kelurga Jro Mangku Wayan Rajin melaksanakan bertepatan dengan prosesi pernikahan putranya yang kedua maka memerlukan biaya yang sangat besar.
ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)


Mahalnya biaya membuat orang Bali lebih memilih ritual Metatah ini dilakukan berkelompok untuk menghemat coast.

Setelah semuanya selesai maka Kadek dan Dayu Okta harus bersiap-siap di dandani atau di rias untuk melaksanakan upacara Pawiwahan dan kemudian berdoa ke pura leluhur mereka.

Memang orang Bali selalu mengingat akan Budaya asal mereka dan tidak pernah meninggalkannya sesuai dengan falsafah mereka:

"....Ngerajenga Agama Budaya Adat Istiadat Jagat Lan Sedaging Jagat Rauhin Kepungkur Wekas..."

yang artinya Masyarakat Bali senantiasa menjaga keajegan/kerukunan agama, adat istiadat bangsa dan negara dari dulu, kini dan yang akan datang.

OTONAN peringatan hari lahir umat hindu

ORIGINAL POSTED by Goestu BrandalanCengenkkeparat (in FB GRUP)

Bali memang unik dan menarik bagi semua orang, tidak hanya Bangsa sendiri tetapi juga Bangsa-bangsa di seluruh dunia membicarakan tentang "Bali". Salah satu keunikan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali dimanapun berada tidak pernah melupakan prihal; Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni; 6 (enam) bulan kali 35 hari = 210 hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Bali memang unik dan menarik bagi semua orang, tidak hanya Bangsa sendiri tetapi juga Bangsa-bangsa di seluruh dunia membicarakan tentang "Bali". Salah satu keunikan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali dimanapun berada tidak pernah melupakan prihal; Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni; 6 (enam) bulan kali 35 hari = 210 hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Berbeda dengan peringatan hari Ulang Tahun yang hanya menggunakan perhitungan tanggal dan bulan saja, dengan mengabaikan hari maupun wuku pada tanggal tersebut. Misalnya seseorang yang lahir tanggal 10 Januari, maka hari ulang tahunnya akan diperingati tiap-tiap tanggal 10 Januari pada tahun berikutnya (12 bulan kalender).

Otonan diperingati sebagai hari kelahiran dengan melaksanakan upakara yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan dan bila upakaranya lebih besar dipuput aleh pemangku (Pinandita). Sarana pokok sebagai upakara dalam otonan ini ada1ah; biyukawonan, tebasan lima, tumpeng lima, gebogan dan sesayut.

Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam mengantarkan doa-doa otonan sering mempergunakan doa yang diucapkan yang disebut sehe (see) yakni doa dalam bahasa Bali yang diucapkan oleh penganteb upacara otonan yang memiliki pengaruh psikologis terhadap yang melaksanakan otonan, karena bersamaan dengan doa juga dilakukan pemberian simbol-simbol sebagai telah menerima anugerah dari kekuatan doa tersebut.

Sebagai contoh :

Melingkarkan gelang benang dipergelangan tangan si empunya Otonan, dengan pengantar doa : "Ne cening magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi" (Ini kamu memakai gelang benang, supaya ber otot kawat dan bertulang besi).

Ada dua makna yang dapat dipetik dari simbolis memakai gelang benang tersebut adalah pertama dilihat dari sifat bendanya dan kedua dari makna ucapannya. Dari sifat bendanya benang dapat dilihat sebagai berikut :

1. Benang memiliki konotasi beneng dalam bahasa Bali berarti lurus, karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. Agar hati selalu di jalan yang lurus/benar.

2. Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.

Sedangkan dari ucapannya doa tersebut memiliki makna pengharapan agar menjadi kuat seperti memiliki kekuatannya baja atau besi. Disamping kuat dalam arti fisik seperti kuat tulang atau ototnya tetapi juga kuat tekadnya, kuat keyakinannya terhadap Tuhan dan kebenaran, kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup sebab hidup ini bagaikan usaha menyeberangi samudra yang luas. Bermacam rintangan ada di dalamnya, tak terkecuali cobaan hebat yang sering dapat membuat orang putus asa karena kurang kuat hatinya.

Dalam rangkaian upacara otonan berikutnya sebelum natab, didahului dengan memegang dulang tempat sesayut dan memutar sesayut tersebut tiga kali ke arah pra sawia (searah jarum jam) dengan doa dalam bahasa Bali sebagai berikut: "Ne cening ngilehang sampan, ngilehang perahu, batu mokocok, tungked bungbungan, teked dipasisi napetang perahu "bencah" (Ini kamu memutar sampan, memutar perahu, batu makocok, tongkat bungbung, sampai di pantai menemui kapal terdampar).

Dari doa tersebut dapat dilihat makna:

1. "Ngilehang sampan ngilehang perahu" bahwa hidup ini bagaikan diatas perahu yang setiap hari harus kesana-kemari mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Badan kasar ini adalah bagaikan perahu yang selalu diarahkan sesuai dengan keinginan sang diri yang menghidupi kita.

2. "Batu makocok" adalah sebuah alat judi. Kita teringat dengan kisah Pandawa dan Korawa yang bermain dadu, yang dimenangkan oleh Korawa akibat kelicikan Sakuni. Jadi hidup ini bagaikan sebuah perjudian dan dengan tekad dan keyakinan yang kuat harus dimenangkan.

3. "Tungked bungbungan" (tongkat berlobang) adalah bambu yang dipakai kantihan yakni sebagai penyangga keseimbangan samping perahu agar tidak mudah tenggelam karena bambu bila masih utuh memang selalu terapung. "Perahu hidup ini" jangan mudah tenggelam oleh keadaan, kita harus selalu dapat mengatasinya sehingga dapat berumur panjang sampai mempergunakan tongkat (usia tua).

4. "Teked dipasisi napetang perahu bencah" (sampai di pantai menemui perahu / kapal terdampar). Terinspirasi dari sistem hukum tawan karang yang ada pada jaman dahulu di Bali, yakni setiap ada kapal atau perahu yang terdampar di pantai di Bali, rakyat Bali dapat dengan bebas menahan dan merampas barang yang ada .pada kapal yang terdampar tersebut. Maksudnya supaya mendapatkan rejeki nomplok, atau dengan usaha yang mudah bisa mendapatkan rejeki yang banyak.

Demikian luhurnya makna doa yang diucapkan dalam sebuah upacara otonan bagi masyarakat Hindu Bali yang dikemas dengan simbolis yang dapat dimaknai secara fisik maupun psikologis, dengan harapan agar putra-putri yang menjadi tumpuan harapan keluarga mendapatkan kekuatan dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan.

DASA AWATARA

Dasa Awatara adalah sepuluh Awatara yang diyakini sebagai penjelmaan material Dewa Wisnu dalam misi menyelamatkan dunia. Dari sepuluh Awatara, sembilan diantaranya diyakini sudah pernah menyelamatkan dunia, sedangkan satu di antaranya, Awatara terakhir (Kalki Awatara), masih menunggu waktu yang tepat (konon pada akhir Kali Yuga) untuk turun ke dunia. Kisah-kisah Awatara tersebut terangkum dalam sebuah kitab yang disebut Purana.


Dasa Awatara dari zaman ke zaman

Matsya Awatara, sang ikan, muncul saat Satya Yuga
Kurma Awatara, sang kura-kura, muncul saat Satya Yuga
Waraha Awatara, sang babi hutan, muncul saat Satya Yuga
Narasimha Awatara, manusia berkepala singa, muncul saat Satya Yuga
Wamana Awatara, sang orang cebol, muncul saat Treta Yuga
Parasurama Awatara, sang Rama bersenjata kapak, muncul saat Treta Yuga
Rama Awatara, sang ksatria, muncul saat Treta Yuga
Kresna Awatara, putra Wasudewa, muncul saat Dwapara Yuga
Buddha Awatara, pangeran Siddharta Gautama, muncul saat Kali Yuga
Kalki Awatara, sang pemusnah, muncul saat Kali Yuga

ZAMAN KALIYUGA

Kaliyuga (Dewanagari: कलीयुग) (disebut juga "zaman kegelapan") adalah salah satu dari empat jenjang zaman yang merupakan siklus dari Yuga. Jenjang yang lain bernama Dwaparayuga, Tretayuga, dan Satyayuga. Menurut Surya Siddhanta (kitab ilmu astronomis yang menjadi dasar perhitungan kalender Hindu dan Buddha), Kaliyuga dimulai tengah malam pada pukul 00.00 (atau 24.00), pada tanggal 18 Februari 3102 SM menurut perhitungan kalender Julian,[1] atau tanggal 23 Januari 3102 SM menurut perhitungan kalender Gregorian, yang mana pada saat tersebut diyakini oleh umat Hindu sebagai saat ketika Kresna meninggal dunia. Kali Yuga berlangsung selama 432.000 tahun. Pada zaman Kaliyuga, tingkat moralitas yang tersisa hanya seperempat dari yang ada pada zaman Satyayuga, sehingga lembu dharma hanya berdiri dengan satu kaki saja.[2][3]

Kebanyakan umat Hindu meyakini sekarang adalah masa Kaliyuga, meskipun ada yang mengatakan sekarang masa Dwaparayuga. Menurut Sri Yukteswar,[4] semenjak tahun 1699 Masehi, bumi telah memasuki kembali zaman Dwaparayuga. Namun, dilihat dari situasi dan kondisi, bagi kebanyakan umat Hindu, zaman sekarang cenderung menunjukkan tanda-tanda zaman Kaliyuga. Semenjak tahun 3102 SM sampai sekarang, zaman Kaliyuga baru berjalan selama kurang lebih 5000 tahun.

Pelafalan kata Kali berbeda dengan Kālī. Kata kali dalam Kaliyuga tidak sama dengan Dewi Kālī. Dalam kata Kaliyuga, kali berarti manifestasi negatif dari Dewa Wisnu yang menjalankan keburukan di dunia, sekaligus penyebab kehancuran.[5] Sedangkan kata kālī pada Dewi Kali berarti hitam, kematian, waktu (bentuk feminin dari kata Kāla).

Tanda-tanda zaman Kaliyuga

Dalam kitab Wisnupurana dituturkan:

“ Pada masa Kaliyuga, ada banyak aturan yang saling bersaing satu sama lain. Mereka tidak akan punya tabiat. Kekerasan, kepalsuan, dan tindak kejahatan akan menjadi santapan sehari-hari. Kesucian dan tabiat baik perlahan-lahan akan merosot..... Gairah dan nafsu menjadi pemuas hati di antara pria dan wanita. Wanita akan menjadi objek yang memikat nafsu birahi. Kebohongan akan digunakan untuk mencari nafkah. Orang-orang terpelajar kelihatan lucu dan aneh. Hanya orang-orang kaya yang akan berkuasa. ”

Pada zaman Kaliyuga, banyak perubahan tak diinginkan yang akan terjadi. Tangan kiri akan menjadi tangan kanan, dan tangan kanan menjadi tangan kiri. Orang yang kurang terpelajar akan mengajari kebenaran. Yang tua kurang sensitif terhadap yang muda, dan yang muda akan berani melawan yang tua.

Pada zaman Kaliyuga, orang-orang yang berbuat dosa akan bertambah berlipat-lipat, kebajikan akan meredup dan berhenti berkembang.

Pada zaman Kaliyuga, kehamilan di usia remaja bukanlah hal yang asing lagi. Penyebab utamanya kebanyakan karena dampak sosial dari pergaulan yang dijadikan salah satu kebutuhan utama dalam hidup.

Pada zaman tersebut, umat manusia menjadi semakin pendek, raganya melemah secara mental dan rohaniah.

Pada zaman Kaliyuga, para guru akan dilawan oleh para muridnya. Mereka perlahan-lahan kehilangan rasa hormat. Pelajarannya akan dicela dan Kama (nafsu) akan mengontrol semua keinginan manusia.

Semakin bertambahnya orang-orang berdosa, keadilan menjadi ternoda, dan kemarahan Tuhan akan mendera. Orang-orang berdosa akan dihukum melalui kejadian yang disebabkan oleh kuasa Tuhan, tetapi orang-orang yang masih hidup dan sempat menyaksikannya masih punya kesempatan untuk bertobat, atau tidak bertobat dan ikut dihukum bersama orang-orang berdosa yang lain.

Ketika pohon-pohon berhenti berbunga, dan pohon-pohon buah berhenti berbuah, maka pada saat itulah masa-masa menjelang akhirnya zaman Kaliyuga. Hujan akan turun bukan pada musimnya ketika akhir zaman Kaliyuga sudah mendekat.

ZAMAN DWAPARAYUGA

Dwaparayuga adalah zaman ketiga dalam siklus Yuga. Zaman ini merupakan lanjutan dari zaman Tretayuga, zaman ketika moral manusia sempurna. Zaman Dwaparayuga merupakan zaman sebelum Kaliyuga. Zaman ini berlangsung selama 864.000 tahun. Merujuk pada apa yang tertulis di dalam Purana, zaman Dwaparayuga berakhir di kala Kresna kembali ke kediaman abadinya di Waikuntha.

ZAMAN TRETAYUDA

Tretayuga (Dewanagari: त्रेतायुग) adalah jenjang zaman yang kedua dalam siklus Yuga. Zaman ini merupakan lanjutan dari zaman Satyayuga, zaman ketika moral manusia sempurna. Zaman Tretayuga merupakan zaman sebelum Dwaparayuga. Zaman ini berlangsung selama 1.296.000 tahun.

Jika diibaratkan seperti Lembu Dharma (simbol perkembangan moralitas), keempat siklus Yuga seperti lembu yang berdiri dengan empat kakinya, dimana setiap zaman berganti, kaki lembu juga ikut berkurang satu. Zaman Satyayuga seperti lembu yang berdiri dengan empat kaki, mantap. Pada masa Tretayuga, lembu Dharma berdiri dengan tiga kaki.

Pada zaman ini, manusia mulai melakukan dosa-dosa. Penjahat mulai bermunculan. Namun semua masih berjalan seimbang. Aktivitas yang berhubungan dengan agama dan kerohanian terjadi dimana-mana dan sangat erat dengan kehidupan manusia.

Pada zaman ini muncul berbagai peristiwa. Peristiwa yang paling terkenal adalah munculnya Awatara Wisnu yang kelima, keenam, dan kedelapan, yakni: Wamana, Parasurama, dan Rama.

ZAMAN SATYAYUGA

Satyayuga (Dewanagari: सत्ययुग ; disebut juga Satyuga, Kṛta Yuga, Kertayuga) dalam ajaran agama Hindu, adalah suatu kurun zaman yang disebut sebagai "zaman keemasan", ketika umat manusia sangat dekat dengan Tuhan dan para Dewa, ketika kebenaran ada dimana-mana, dan kejahatan adalah sesuatu yang tak biasa.

Permulaan dari siklus Yuga

Satyayuga atau Kertayuga, merupakan tahap awal dari empat (catur) Yuga. Siklus Yuga merupakan siklus yang berputar seperti roda. Setelah Satyayuga berakhir, untuk sekian lamanya kembali lagi kepada Satyayuga. Satyayuga berlangsung kurang lebih selama 1.700.000 tahun. Setelah masa Satyayuga berakhir, disusul oleh masa Tretayuga. Setelah itu masa Dwaparayuga, lalu diakhiri dengan masa kegelapan, Kaliyuga. Setelah dunia kiamat pada akhir zaman Kaliyuga, Tuhan yang sudah membinasakan orang jahat dan menyelamatkan orang saleh memulai kembali masa kedamaian, zaman Satyayuga.

Satyayuga, zaman keemasan

Satyayuga merupakan zaman keemasan, ketika orang-orang sangat dekat dengan Tuhan. Hampir tidak ada kejahatan. Pelajaran agama dan meditasi (mengheningkan pikiran) merupakan sesuatu yang sangat penting pada zaman ini. Konon rata-rata umur umat manusia bisa mencapai 4.000 tahun ketika hidup di zaman ini. Menurut Nathashastra, di masa Satya Yuga tidak ada Natyam karena pada masa itu semua orang berbahagia.

Pada masa Satyayuga, orang-orang tidak perlu menulis kitab, sebab orang-orang dapat berhubungan langsung dengan Yang Maha Kuasa. Pada masa tersebut, tempat memuja Tuhan tidak diperlukan, sebab orang-orang sudah dapat merasakan di mana-mana ada Tuhan, sehingga pemujaan dapat dilakukan kapanpun dan di manapun.

DEWATA NAWA SANGA


Nawa Dewata atau Dewata Nawa Sanga adalah sembilan penguasa di setiap penjuru mata angin dalam konsep agama Hindu Dharma di Bali.

Bagian-bagian Nawa Dewata

Wisnu

Dewa Wisnu merupakan penguasa arah utara (Uttara), bersenjata Chakra Sudarshana, wahananya (kendaraan) Garuda, shaktinya Dewi Sri, aksara sucinya "A", di Bali beliau dipuja di Pura Batur.

Sambhu

Dewa Sambhu merupakan penguasa arah timur laut (Ersanya), bersenjata Trisula, wahananya (kendaraan) Wilmana, shaktinya Dewi Mahadewi, aksara sucinya "Wa", di Bali beliau dipuja di Pura Besakih.

Iswara

Dewa Iswara merupakan penguasa arah timur (Purwa), bersenjata Bajra, wahananya (kendaraan) gajah, shaktinya Dewi Uma, aksara sucinya "Sa", di Bali beliau dipuja di Pura Lempuyang.

Maheswara

Dewa Maheswara merupakan penguasa arah tenggara (Gneyan), bersenjata Dupa, wahananya (kendaraan) macan, shaktinya Dewi Lakshmi, aksara sucinya "Na", di Bali beliau dipuja di Pura Goa Lawah.

Brahma

Dewa Brahma merupakan penguasa arah selatan (Daksina), bersenjata Gada, wahananya (kendaraan) angsa, shaktinya Dewi Saraswati, aksara sucinya "Ba", di Bali beliau dipuja di Pura Andakasa.

Rudra

Dewa Rudra merupakan penguasa arah barat daya (Nairiti), bersenjata Moksala, wahananya (kendaraan) kerbau, shaktinya Dewi Samodhi/Santani, aksara sucinya "Ma", di Bali beliau dipuja di Pura Uluwatu.

Mahadewa

Dewa Mahadewa merupakan penguasa arah barat (Pascima), bersenjata Nagapasa, wahananya (kendaraan) Naga, shaktinya Dewi Sanci, aksara sucinya "Ta", di Bali beliau dipuja di Pura Batukaru.

Sangkara

Dewa Sangkara merupakan penguasa arah barat laut (Wayabhya), bersenjata Angkus/Duaja, wahananya (kendaraan) singa, shaktinya Dewi Rodri, aksara sucinya "Si", di Bali beliau dipuja di Pura Puncak Mangu.

Siwa

Dewa Siwa merupakan penguasa arah tengah (Madhya), bersenjata Padma, wahananya (kendaraan) Lembu Nandini,senjata Padma shaktinya Dewi Durga (Parwati), aksara sucinya "I" dan "Ya", di Bali beliau dipuja di Pura Pusering Jagat.

Kerajaan Bedahulu(Bali) serta Awal mula dari wangsa Brahmana di BALI

Sebelum membaca ingat di bali(hindu) tidak mengenal yang namanya KASTA(perspsi yang salah)

Jangan menyamakan wangsa dengan kasta, dalam agama hindu/bali hanya mengenal WARNA lebih jelasnya keluarga atau istilah keren'nya CLAN, hehe.... kebanyakan nonton anime...

(selamat membaca)

*Kerajaan Bedahulu* (Bali)

Kerajaan Bedahulu atau Bedulu adalah kerajaan kuno di pulau Bali pada abad ke-8 sampai abad ke-14, yang memiliki pusat kerajaan di sekitar Pejeng atau Bedulu, Kabupaten Gianyar, Bali. Diperkirakan kerajaan ini diperintah oleh raja-raja keturunan Dinasti Warmadewa masih ada hubungan dengan Prabu Erlangga. Penguasa terakhir kerajaan Bedulu (Dalem Bedahulu) menentang ekspansi Kerajaan Majapahit pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Gajah Mada, sehingga akhirnya pecah perang yang berakhir dengan kekalahan Bedahulu. Perlawanan Bedahulu kemudian benar-benar padam setelah pemberontakan keturunan terakhirnya (Dalem Makambika) berhasil dikalahkan tahun 1347.

Setelah itu Gajah Mada menempatkan seorang keturunan brahmana dari Jawa bernama Sri Kresna Kepakisan sebagai raja (Dalem) di pulau Bali. Keturunan Dinasti Kepakisan inilah yang di kemudian hari menjadi raja-raja di beberapa kerajaan kecil di Pulau Bali.

Raja-raja Bedahulu

1. Sri Kesari Warmadewa - (882-913)

2. Sri Ugrasena - (915-939)

3. Agni

4. Tabanendra Warmadewa

5. Candrabhaya Singa Warmadewa - (960-975)

6. Janasadhu Warmadewa

7. Sri Wijayamahadewi

8. Dharmodayana Warmadewa (Udayana) - (988-1011)

9. Gunapriya Dharmapatni (bersama Udayana) - (989-1001)

10. Sri Ajnadewi

11. Sri Marakata - (1022-1025)

12. Anak Wungsu - (1049-1077)

13. Dalem Madura

14. Sri Maharaja Sri Walaprabu - (1079-1088)

15. Sri Maharaja Sri Sakalendukirana - (1088-1098)

16. Sri Suradhipa - (1115-1119)

17. Sri Jayasakti - (1133-1150)

18. Ragajaya

19. Sri Maharaja Aji Jayapangus - (1178-1181)

20. Arjayadengjayaketana

21. Aji Ekajayalancana

22. Bhatara Guru Sri Adikuntiketana

23. Parameswara

24. Adidewalancana

25. Mahaguru Dharmottungga Warmadewa

26. Walajayakertaningrat (Sri Masula Masuli atau Dalem Buncing?)

27. Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Dalem Bedahulu) - (1332-1343)

28. Dalem Tokawa (1343-1345)

29. Dalem Makambika (1345-1347) Setelah pemerintahan raja Sri Mahaguru tahun 1324-1328 M. Maka pemerintahan dipegang oleh Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten yang disebut dalam prasasti Patapan Langgahan tahunv1337 M. Selain itu ada pula sebuah patung yang disimpan di Pura Tegeh Koripan termasuk Desa Kintamani. Pada bagian belakang patung itu ada tulisan yang sangat rusak keadaannya. Baginda mengangkat seorang mangkubumi yang gagah perkasa bernama Ki Pasunggrigis, yang tinggal di desa Tengkulak dekat istana Bedahulu di mana raja Astasura bersemayam. Sebagai pembantunya diangkat Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna yang tinggal di Desa Belahbatuh. Para menterinya di sebutkan sebagai berikut : · Krian Girikmana tinggal di Desa Loring Giri (Buleleng)· Krian Tambiak tinggal di Desa Jimbaran· Krian Tunjung Tutur tinggal di desa Tenganan.· Krian Buahan tinggal di desa Batur· Krian Tunjung Biru di desa Gianyar· Krian Kopang tinggal di desa Seraya · Krian Walungsari tinggal di desa Taro.

Pasung Grigis Mahapatih Bedahulu

Pasung Grigis adalah mahapatih andalan kerajaan Bali pada masa pemerintahan Sri Astha Sura Ratna Bumi Banten pada abad ke-14. Ahli strategi militer yang bertempat tinggal di desa Tengkulak ini adalah mentor dari mahapatih Kebo Iwa.

Setelah kematian Kebo Iwa akibat tipu muslihat mahapatih Gajah Mada, Pasung Grigis memimipin perlawanan kerajaan Bali melawan ekspedisi militer Majapahit pada tahun 1343. Dalam perang yang berlangung sengit itu, panglima berpusaka keris Ki Padang Lembu ini kemudian tertawan dan akibatnya perlawanan rakyat Bali kemudian melemah dan akhirnya berakhir untuk sementara.

Pasung Grigis kemudian memutuskan untuk ikut bergabung dalam pemerintahan kerajaan vasal Bali bentukan Majapahit. Sebagai tanda kesetiaan ia diperintahkan memimpin pasukan Majapahit untuk memadamkan pemberontakan kerajaan Sumbawa yang dipimpin Raja Dedela Nata. Sumbawa berhasil ditaklukkan namun baik Pasung Grigis maupun Dedela Nata gugur, mati sampyuh, dalam sebuah duel. Kebo Iwa patih Kerajaan Bedahulu Kebo Iwa adalah salah seorang panglima militer Bali pada masa pemerintahan Prabu Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten pada awal abad ke-14. Nama lain dari Kebo Iwa adalah Kebo Wandira atau Kebo Taruna yang bermakna kerbau yang perjaka. Pada masa itu nama-nama binatang tertentu seperti kebo (kerbau), gajah, mahisa (banteng), banyak (angsa) lazim dipakai sebagai titel kehormatan khususnya di Bali ataupun Jawa. Panglima muda yang bertempat tinggal di desa Blahbatuh dan anak dari Panglima Rakyan Buncing ini sering digambarkan sebagai pemuda bertubuh tinggi besar yang mengusai seni perang selain ilmu arsitektur. Undagi (arsitek tradisonal Bali) ini membangun berbagai tempat ibadah di Bali dan tak segan-segan mengangkut sendiri batu-batu besar dengan kekuatan fisiknya. Mahapatih Majapahit, Gajah Mada, memandang Kebo Iwa dan Pasung Grigis, panglima Bali yang lebih senior dan ahli strategi militer, sebagai batu sandungan politik ekspansionisnya. Jalan yang ditempuh dengan tipu muslihat yaitu raja putri Tribhuwana Tunggadewi mengutus Gajah Mada ke Bali dengan membawa surat yang isinya seakan-akan raja putri menginginkan persahabatan dengan raja Bedahulu dan mengundang Kebo Iwa untuk datang ke Majapahit untuk dinikahkan dengan seorang putri dari Lemah Tulis sebagai tanda persahabatan antar kedua negara. Ketika Kebo Iwa tengah menggali sumur besar atas permintaan calon istrinya, pasukan Majapahit melemparinya dan menimbun sumur dengan batu. Di sinilah Kebo Iwa sadar bahwa kehadirannya di Majapahit memang untuk dibunuh. Di hadapan Gajah Mada ia berkata bahwa ia rela mati bukan karena kalah melawan Gajah Mada melainkan demi persatuan Nusantara. Gugurnya Kebo Iwa mempermudah ekspedisi penaklukan Bali yang dipimpin Adityawarman, panglima berdarah Singhasari-Dharmasraya, pada tahun 1343. Setelah mengetahui Kebo Iwa telah tewas terbunuh maka Prabu Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten memerintahkan Amangkubhumi Pasanggrigis menggantikan Kebo Iwa mengorganisir pasukannya untuk menghadapi serbuan tentara Majapahit Dalam rapat tersebut seluruh hadirin sepakat mempertahankan Bali dan tidak mau tunduk kepada Majapahit. Gajah Mada kemudian mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyerang Bali. Ekspedisi Gajah Mada ke Bali pada tahun 1334 dengan Candrasangkala Caka isu rasaksi nabhi (anak panah, rasa, mata pusat). Pasukan Majapahit dipimpin oleh Gajah Mada sendiri bersama panglima Arya Damar dibantu oleh beberapa Arya. Setelah sampai di pantai Banyuwangi, tentara Majapahit berhenti sebentar untuk mengatur siasat peperangan.

Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga.

*Silsilah Sri Kresna Kepakisan*

Tersebutlah Di Jawa ada pendeta maha sakti bernama Danghyang Bajrasatwa. Mempunyai 1 orang putra bernama Danghyang Tanuhun atau Mpu Lampita, beliau adalah pendeta Budha, memiliki kepandaian luar biasa serta bijaksana dan mahasakti seperti ayahnya Danghyang Bajrasatwa. Ida Danghyang Tanuhun berputra lima orang, dikenal dengan sebutan Panca Tirtha. Beliau Sang Panca Tirtha sangat terkenal keutamaan beliau semuanya.

1. Mpu Gnijaya. Beliau membuat pasraman di Gunung Lempuyang Madya, Bali Timur, datang di Bali pada tahun Isaka 971 atau tahun Masehi 1049. Beliaulah yang menurunkan Sang Sapta Resi - tujuh pendeta yang kemudian menurunkan keluarga besar Pasek di Bali

2. Mpu Semeru, membangun pasraman di Besakih, turun ke Bali tahun Isaka 921, tahun Masehi 999. Beliau mengangkat putra yakni Mpu Kamareka atau Mpu Dryakah yang kemudian menurunkan keluarga Pasek Kayuselem.

3. Mpu Ghana, membangun pasraman di Dasar Gelgel Klungkung, datang di Bali pada tahun Isaka 922 atau tahun Masehi 1000.

4. Ida Empu Kuturan atau Mpu Rajakretha, datang di Bali tahun Isaka 923 atau tahun Masehi 1001, membangun pasraman di Silayukti, Teluk Padang atau Padangbai, Karangasem.

5. Ida Mpu Bharadah atau Mpu Pradah, menjadi pendeta kerajaan Prabu Airlangga di Kediri, Daha, Jawa Timur, berdiam di Lemah Tulis, Pajarakan, sekitar tahun Masehi 1000.

Mpu Kuturan demikian tersohornya di kawasan Bali, dikenal sebagai Pendeta pendamping Maharaja Sri Dharma Udayana Warmadewa, serta dikenal sebagai perancang pertemuan tiga sekte agama Hindu di Bali, yang disatukan di Samuan Tiga , Gianyar. Beliau pula yang merancang keberadaan desa pakraman - desa adat serta Kahyangan Tiga - tiga pura desa di Bali, yang sampai kini diwarisi masyarakat. Demikian banyaknya pura sebagai sthana Bhatara dibangun di Bali semasa beliau menjabat pendeta negara, termasuk Sad Kahyangan serta Kahyangan Jagat dan Dhang Kahyangan di kawasan Bali ini. Nama beliau tercantum di dalam berbagai prasasti dan lontar yang memuat tentang pura, upacara dan upakara atau sesajen serta Asta Kosala - kosali yang memuat tata cara membangun bangunan di Bali. Tercantum dalam lempengan prasasti seperti ini

"Ida sane ngawentenang pawarah - warah silakramaning bwana rwa nista madhya utama. lwirnya ngawangun kahyangan, mahayu palinggih Bhatara - Bhatari ring Bali lwirnya Puseh desa Walyagung Ulunswi Dalem sopana hana tata krama maring Bali, ayun sapara Bhatara lumingga maring Sad Kahyangan, neher sira umike sila krama" yang artinya: Beliau Mpu Kuturan yang mengadakan aturan tentang tatacara di dunia ini yang berhubungan dengan mikro dan makrokosmos dalam tingkat nista madya utama (sederhana, menengah dan utama), seperti membangun pura kahyangan, menyelenggarakan upacara sthana Bhatara-bhatari di Bali. Seperti Pura Puseh Desa, Baleagung, Ulunswi, Dalem, dan karena ada tata cara di Bali seperti itu berkenanlah para Bhatara bersthana di Sad Kahyangan, karena beliau yang mengadakan tata aturan tersebut.

Adiknya bernama Danghyang Mpu Bharadah mempunyai putra Iaki-laki dan keutamaan yoga beliau bernama Mpu Bahula. Bahula berarti utama. Kepandaian dan kesaktian beliau di dunia sama dengan ayahandanya Mpu Bharadah. Beliau memperistri putri dari Rangdeng Jirah - janda di Jirah atau Girah yang bernama Ni Dyah Ratna Manggali. Kisah ini terkenal dalam ceritera Calonarang. Empu Bahula berputra Iaki bernama Mpu Tantular, yang sangat pandai di dalam berbagai ilmu filsafat. Tidak ada menyamai dalam soal kependetaan, sama keutamaannya dengan Mpu Bahula, ayahandanya. Mpu Tantular adalah yang dikenal sebagai penyusun Kakawin Sutasoma di mana di dalamnya tercantum "Bhinneka Tunggal lka" yang menjadi semboyan negara Indonesia. Beliau juga bergelar Danghyang Angsokanata. Keberadaan beliau di Bali diperkirakan sejaman dengan pemerintahan raja Bali, Sri Haji Wungsu pada tahun Masehi 1049.

Ida Mpu Tantular atau Danghyang Angsokanata, berputra empat orang semuanya Iaki-laki.

1. Mpu Danghyang Panawasikan

2. Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra

3. Mpu Danghyang Smaranatha

4. Mpu Danghyang Soma Kapakisan.

Danghyang Soma Kapakisan, yang menjadi guru dari Mahapatih Gajahmada di Majapahit Ida Danghyang Panawasikan memiliki putri seorang, demikian cantiknya, diperistri oleh Danghyang Nirartha.

Ida Danghyang Smaranatha, memiliki dua orang putra,

1. Danghyang Angsoka, berdiam di Jawa melaksanakan paham Budha Danghyang Angsoka berputra Danghyang Astapaka, yang membangun pasraman di Taman Sari, yang kemudian menurunkan Brahmana Budha di Pulau Bali.

2. Danghyang Nirartha, atau Danghyang Dwijendra, Peranda Sakti Wawu Rawuh dan dikenal juga dengan sebutan Tuan Semeru. Beliau melaksanakan paham Siwa, serta menurunkan keluarga besar Brahmana Siwa di Bali yakni, Ida Kemenuh, Ida Manuaba, Ida Keniten, Ida Mas serta Ida Patapan.

Obrolan(Chat Zone)

Total Pageviews

 
powered by Blogger | Design by ADMIN all rights reserved